

KHAMENEI.ID– Kekuasaan sering kali diukur dari angka. Berapa besar pertumbuhan ekonomi, seberapa tinggi investasi, atau berapa banyak pembangunan yang berhasil diwujudkan. Semua itu penting. Namun dalam pandangan Islam, ada ukuran yang jauh lebih mendasar daripada sekadar keberhasilan administratif. Seorang pemimpin tidak hanya diminta mengatur kehidupan dunia, tetapi juga membantu manusia menemukan

KHAMENEI.ID– Ada kalanya hukum terasa pahit. Ia membatasi keinginan, menahan ambisi, bahkan memaksa seseorang menerima kenyataan yang tidak sesuai harapan. Namun sejarah berulang kali menunjukkan satu hal: kepahitan menaati hukum hampir selalu lebih ringan daripada penderitaan yang lahir ketika hukum diabaikan. Ketika setiap orang merasa dirinya lebih benar daripada aturan bersama,

KHAMENEI.ID– Ada masa ketika masyarakat lebih sibuk mencari sosok yang kuat daripada sosok yang benar. Kita mengagumi keberanian, kecerdasan, dan kemampuan mengelola kekuasaan, tetapi sering lupa bertanya: bagaimana jika semua kemampuan itu tidak dituntun oleh hati yang bersih? Di sinilah peristiwa Ghadir menemukan maknanya yang paling mendalam. Ia bukan sekadar peristiwa

KHAMENEI.ID– Ada bangsa yang gemar berbicara tentang kemenangan, tetapi gagal membuktikannya di medan kenyataan. Ada pula bangsa yang tidak banyak mengumbar janji, namun diam-diam mengubah arah sejarah lewat kerja, pengorbanan, dan keteguhan. Sejarah selalu memberi tempat lebih terhormat kepada kelompok kedua. Sebab pada akhirnya, dunia menilai bukan dari seberapa keras suara

KHAMENEI.ID– Peradaban besar tidak pernah lahir secara kebetulan. Ia tidak muncul hanya karena kekayaan alam, kemajuan teknologi, atau gedung-gedung yang menjulang tinggi. Sejarah berkali-kali memperlihatkan bahwa kejayaan sebuah bangsa selalu bermula dari kualitas manusianya. Di balik setiap perubahan besar, selalu ada generasi yang berani berpikir melampaui zamannya, teguh memegang nilai, dan

KHAMENEI.ID– Ada bahaya yang datang dengan suara keras. Ia mudah dikenali karena gaduh, mengancam, dan memaksa orang bersiap. Namun ada pula bahaya yang justru hadir dalam senyap. Ia datang lewat senyum, pujian, kenyamanan, bahkan rasa aman yang berlebihan. Bahaya jenis kedua inilah yang sering luput disadari. Ketika orang merasa tidak ada

KHAMENEI.ID– Ketika berbicara tentang kekuasaan, yang terbayang di benak banyak orang adalah hak untuk memerintah. Jabatan dipandang sebagai puncak pencapaian, sesuatu yang harus direbut, dipertahankan, bahkan diperjuangkan dengan segala cara. Di ruang publik modern, kekuasaan sering diperlakukan layaknya trofi: siapa yang berhasil memperolehnya, dialah pemenangnya. Namun, Imam Ali bin Abi Thalib

KHAMENEI.ID– Di banyak negara modern, legitimasi kekuasaan hampir selalu diukur dari satu hal: suara mayoritas. Siapa yang memperoleh suara terbanyak dianggap paling berhak memimpin. Demokrasi menjadikan kotak suara sebagai penentu akhir. Namun, tradisi politik Islam mengajukan pertanyaan yang jauh lebih mendasar: apakah suara rakyat saja cukup untuk melahirkan pemerintahan yang sah?

KHAMENEI.ID – Hubungan antara ulama dan negara Islam sering kali ditempatkan dalam dua kutub yang berlawanan. Di satu sisi, ulama dianggap harus selalu mendukung pemerintah tanpa kritik. Di sisi lain, setiap ulama yang mendukung negara atau terlibat dalam pemerintahan dicurigai telah kehilangan independensinya. Dua pandangan tersebut, dalam perspektif Sayyid Ali

KHAMENEI.ID – Ada sebuah gagasan yang terus berulang dalam sejarah modern dunia Islam: agama sebaiknya dipisahkan dari politik. Agama ditempatkan di masjid, di ruang ibadah, di wilayah pribadi manusia. Sementara politik diserahkan kepada mereka yang menguasai negara, ekonomi, dan kekuasaan. Sekilas, gagasan itu terdengar seperti jalan menuju ketenangan. Agama dianggap akan

KHAMENEI.ID – Demokrasi, hak asasi manusia, dan kebebasan merupakan tiga slogan yang paling sering dikaitkan dengan peradaban Barat modern. Nilai-nilai tersebut dipromosikan sebagai fondasi tatanan internasional dan sering dijadikan ukuran untuk menilai negara lain. Namun menurut Imam Ali Khamenei qs, sejarah memperlihatkan sebuah paradoks yang tidak bisa diabaikan: di saat









