

KHAMENEI.ID— Ada kecenderungan menarik dalam cara sebagian orang memahami agama: mereka lebih sibuk meniru bentuk luar daripada menangkap ruhnya. Ukuran kesalehan sering dipersempit menjadi model pakaian, gaya bicara, simbol-simbol lahiriah, atau nostalgia visual terhadap masa silam. Padahal, sejarah para tokoh besar Islam justru berbicara tentang sesuatu yang jauh lebih dalam:

عَنِ المُفَضَّلِ بنِ عُمَرَ قالَ سَمِعتُ اَبا عَبدِ اللهِ جَعفَرَ بنَ مُحَمَّدٍ عَلَیهِمَا السَّلام یَقولُ: لا یَکمُلُ ایمانُ العَبدِ حَتّى یَکونَ فیهِ خِصالٌ اَربَعٌ: یُحسِنُ خُلُقَهُ وَ تَسخُو نَفسُهُ وَ یُمسِکُ الفَضلَ مِن قَولِهِ وَ یُخرِجُ الفَضلَ مِن مالِه “Mufadhdhal bin Umar berkata: Aku mendengar Abu Abdillah Ja‘far bin Muhammad

KHAMENEI.ID— Ada satu jenis kelelahan yang hari ini jarang disadari manusia modern: bukan lelah tubuh, melainkan lelah batin. Kita hidup di zaman yang serba cepat, tetapi sering mengambil keputusan dalam keadaan pikiran sempit, hati kusut, dan emosi yang tidak selesai. Kita ingin segala sesuatu segera terjadi, segera berhasil, segera selesai.

KHAMENEI.ID— Ada satu jenis kelelahan yang jarang dibicarakan orang modern: lelah berharap kepada manusia. Kita hidup di zaman ketika hampir semua urusan terasa bergantung pada “orang dalam”, relasi, koneksi, rekomendasi, dan kuasa sosial. Orang mencari pekerjaan lewat kedekatan, mencari jabatan lewat lobi, bahkan mencari ketenangan lewat pengakuan orang lain. Di

KHAMENEI.ID— Syarah Hadits Oleh Ayatullah Sayyid Ali Khamenei qs pada Awal Pelajaran Fikih Tingkat Tinggi tentang Tugas Orang-Orang Kaya, 10 Maret 2019 Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, dan salawat serta salam atas junjungan kita Muhammad saw dan keluarga beliau

Ada satu jenis kritik yang paling sulit diterima manusia: kritik tentang dirinya sendiri. Kita bisa mendengar ceramah tentang keserakahan, iri hati, kemunafikan, atau kesombongan dengan wajah tenang selama kita merasa semua itu sedang membicarakan orang lain. Tapi begitu cermin diarahkan tepat ke wajah kita, kita mulai gelisah. Barangkali itulah mengapa

Ada masa ketika manusia begitu lelah menghadapi hidup hingga kematian terasa seperti jalan keluar paling tenang. Beban ekonomi, penyakit yang tak kunjung reda, kegagalan yang berulang, atau rasa hampa yang tak bisa dijelaskan membuat sebagian orang diam-diam berkata: “Andai semua ini cepat selesai.” Kalimat itu mungkin tidak selalu diucapkan keras-keras,

Ada satu hal yang jarang kita akui dengan jujur: hati kita tidak selalu bersih. Ia mungkin tampak tenang di permukaan, tetapi di dalamnya tersimpan lapisan-lapisan yang tak kasatmata—cinta yang salah arah, kebencian yang berlebihan, keinginan yang tak terkendali, dan keterikatan yang diam-diam mengikat jiwa. Kita menjalaninya seperti biasa, tanpa merasa

Dari Liang Kubur Sa’ad bin Mu’adz, Pelajaran Besar tentang Profesionalisme dalam Islam Di tengah dunia yang semakin tergesa-gesa, ketika pekerjaan kerap dipandang sekadar rutinitas yang harus segera selesai, sebuah kisah klasik dari sejarah Islam menghadirkan jeda yang menggetarkan. Bukan tentang perang besar, bukan pula tentang pidato politik, melainkan tentang