

KHAMENEI.ID – Sebuah masyarakat tidak selalu runtuh karena serangan dari luar. Ada kalanya kehancuran justru bermula dari sesuatu yang tumbuh diam-diam di dalam dirinya: keputusan yang diambil tanpa pertimbangan, pendirian yang dipertahankan meski terbukti keliru, kekaguman berlebihan terhadap diri sendiri, dan kebiasaan menunda pekerjaan sampai kesempatan berlalu. Tak ada ledakan besar

KHAMENEI.ID – Tafsir Imam Ali Khamenei tentang makna “ghairil maghdhūbi ‘alaihim wa laḍ-ḍāllīn” dalam Surah Al-Fatihah Setiap hari, seorang muslim memohon kepada Allah swt agar ditunjukkan jalan orang-orang yang telah diberi nikmat. Namun, doa itu tidak berhenti di sana. Al-Qur’an segera melanjutkannya dengan kalimat yang tidak kalah penting: صِرَاطَ الَّذِينَ

KHAMENEI.ID – Tafsir Imam Ali Khamenei tentang makna mengulang “Ihdinash Shirathal Mustaqim” setiap hari Ada satu pertanyaan yang sering luput ketika membaca Surah Al-Fatihah. Jika seorang muslim telah beriman, mengenal Allah swt, dan berusaha menjalankan agama-Nya, mengapa ia masih harus berulang kali memohon, اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ “Tunjukilah kami jalan yang

KHAMENEI.ID – Tafsir Imam Ali Khamenei tentang ayat Shiratalladzina An’amta ‘alaihim teladan yang harus diikuti di jalan lurus Setelah seorang muslim memohon, اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ—”Tunjukilah kami jalan yang lurus”—Al-Qur’an langsung menjelaskan jalan seperti apa yang dimaksud. Jalan itu bukan konsep yang abstrak dan tidak berjejak. Jalan itu adalah jalan yang

KHAMENEI.ID – Tafsir Imam Ali Khamenei qs terhadap ayat Ihdinash Shirathal Mustaqim; mengapa manusia terus tersesat dalam menjawab persoalan hidup Setiap hari, setidaknya tujuh belas kali dalam salat wajib, seorang muslim mengucapkan doa yang sama: اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ “Tunjukilah kami jalan yang lurus.” (QS. Al-Fatihah [1]: 6) Karena begitu sering

KHAMENEI.ID – Mengapa nilai-nilai Islam terus menjadi sasaran permusuhan? Mengapa setiap kebangkitan umat Islam yang berlandaskan ajaran agamanya hampir selalu dihadapkan pada tekanan politik, ekonomi, budaya, bahkan militer? Dalam pandangan Imam Ali Khamenei qs, jawabannya tidak terletak pada identitas umat Islam semata, melainkan pada substansi ajaran Islam itu sendiri. Yang

KHAMENEI.ID – Tafsir Imam Ali Khamenei tentang hakikat hubungan manusia dengan Allah swt dalam Surah Al-Fatihah, ayat 5 Ketika seorang muslim mengucapkan إِيَّاكَ نَعْبُدُ—”Hanya kepada Engkaulah kami menyembah” (QS. Al-Fatihah [1]: 5)—ia sedang mendefinisikan kembali siapa dirinya di hadapan Tuhan. Bukan sebagai anak, bukan sebagai mitra, bukan pula sebagai bagian

KHAMENEI.ID – Tafsir Imam Ali Khamenei tentang Iyyaka Na’budu Wa Iyyaka Nasta’in, makna penghambaan yang justru membebaskan manusia Di zaman yang menjadikan kebebasan sebagai ukuran tertinggi, kata hamba terdengar seperti istilah yang usang. Tidak ada orang yang ingin disebut budak. Manusia modern ingin merdeka, menentukan jalan hidupnya sendiri, dan bebas

KHAMENEI.ID – Bagaimana iman kepada “Malik Yaumiddin” membebaskan manusia dari kesombongan dan ilusi kekuasaan Apa yang benar-benar kita miliki dalam hidup ini? Rumah yang kita tempati? Harta yang kita kumpulkan? Jabatan yang kita sandang? Atau bahkan tubuh yang setiap hari kita sebut sebagai “milik saya”? Dalam lanjutan tafsir Malik Yaumiddin,

KHAMENEI.ID – Tafsir Imam Ali Khamenei tentang makna “Māliki Yaumid-Dīn” dalam Surah Al-Fatihah Setelah memperkenalkan Allah swt sebagai Rabbul ‘Alamin—Pengatur, Pemelihara, sekaligus Penguasa seluruh alam—Surah Al-Fatihah membawa pembacanya kepada satu kenyataan yang tak dapat dihindari: setiap manusia sedang berjalan menuju hari ketika seluruh amalnya akan dipertanggungjawabkan. Karena itulah, ayat berikutnya

KHAMENEI.ID – Tafsir Imam Ali Khamenei tentang “Rabbul ‘Alamin” yang Mengubah Cara Pandang Seorang Muslim terhadap Kehidupan Setelah menyatakan, الْحَمْدُ لِلَّهِ (“Segala puji bagi Allah”), Surah Al-Fatihah tidak berhenti di sana. Al-Qur’an segera melanjutkannya dengan satu kalimat yang tampak sederhana, tetapi sesungguhnya menjawab sebuah pertanyaan besar: mengapa seluruh pujian hanya