

Apa rahasia dibalik usia pernikahan yang diberkahi? Mengapa Islam sangat menekankan pernikahan muda sementara Barat justru menggesernya ke usia paruh baya? Berikut adalah pandangan mendalam Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, tentang “usia tepat untuk menikah” berdasarkan fitrah manusia dan ajaran Islam yang otentik. Tidak Boleh Terpengaruh Budaya Barat Salah satu tuntutan

KHAMENEI.ID— إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ “Hanya kepada-Mu kami menyembah, dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan” Padahal kalimat itu bukan sekadar bagian dari shalat. Ia adalah deklarasi paling radikal tentang kebebasan manusia. Sebab di dalamnya tersembunyi satu pesan besar: manusia hanya boleh tunduk sepenuhnya kepada Tuhan. Selain itu, tidak. Di zaman

KHAMENEI.ID— Ada ironi yang terus berulang dalam sejarah: semakin seseorang tunduk sepenuhnya kepada Tuhan, semakin sulit ia ditundukkan oleh manusia lain. Karena itu, penguasa zalim selalu punya ketakutan yang sama terhadap agama yang hidup, bukan agama yang sekadar menjadi simbol, melainkan agama yang benar-benar membentuk keberanian batin manusia. Hari ini

Perdebatan tentang perempuan hampir selalu berputar pada dua kutub ekstrem: tradisi yang dituduh mengekang, dan modernitas yang mengklaim membebaskan. Di tengah tarik-menarik itu, Imam Ali Khamenei mengajak melihat kembali bagaimana Islam memandang perempuan—bukan melalui stereotip, melainkan melalui teks suci dan kerangka spiritual yang sering luput dari pembacaan populer. Beliau menegaskan

Suatu bangsa bisa runtuh bukan karena kalah perang, tetapi karena kalah dalam menjelaskan kebenaran. Kekalahan itu sunyi, tak berdarah, namun merambat pelan melalui kabut keraguan, simpang-siur informasi, dan kata-kata setengah hati dari mereka yang seharusnya berbicara. Di sinilah sebuah konsep penting mengemuka: Jihad Tabyin (Jihad Narasi) atau perjuangan dalam menjelaskan

Tafsir إِیّاکَ نَعبُدُ Setelah kesadaran tentang “مٰلِکِ یَومِ الدّین” menegaskan bahwa seluruh hidup manusia akan bermuara pada satu hari pertanggungjawaban di bawah kekuasaan mutlak Tuhan, maka secara alami lahirlah satu sikap batin yang paling mendasar: penyerahan diri sepenuhnya. Dari titik inilah ayat beralih menjadi sebuah pernyataan yang tidak lagi sekadar

Tafsir Ayat مَلِکِ یَومِ الدّین Setelah ayat-ayat awal Surah Al-Fatihah menuntun kita mengenal Tuhan sebagai Rabb semesta alam dan sumber kasih sayang yang tak terbatas, Al-Qur’an kemudian membawa kesadaran kita melangkah lebih dalam, menuju satu kenyataan yang tak terelakkan: “مٰلِکِ یَومِ الدّین” — Pemilik Hari Pembalasan. Di titik ini, hubungan

Makna Ar-Rahman dan Ar-Rahim Ar-Rahman dan Ar-Rahim keduanya diambil dari akar kata “Rahmat”, namun dengan dua perhatian dan sudut pandang yang berbeda. Ar-Rahman: Adalah sighah mubalaghah (bentuk hiperbolis). Dalam bahasa Arab, salah satu bentuk mubalaghah adalah fa’lan. Rahman menunjukkan banyaknya rahmat dan limpahan rahmat; menunjukkan luasnya lingkaran rahmat Ilahi. Ar-Rahim:

Bismillahirrahmanirrahim Kami telah menyampaikan pendahuluan mengenai keharusan menafsirkan Al-Qur’an dan keharusan merujuk kepadanya, serta metode kerja tafsirnya. Ringkasnya adalah bahwa dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an, kami lebih memperhatikan kebutuhan masyarakat berbahasa Persia saat ini, yaitu mengetahui terjemahan yang jelas dan lancar dari Al-Qur’an, kemudian menjelaskan konsep-konsep Al-Qur’an pada tingkat menengah. (Maksud

Ada satu pertanyaan sederhana yang sering luput kita ajukan: jika kenabian adalah peristiwa terbesar dalam sejarah manusia, sebenarnya hadiah apa yang dibawanya untuk dunia? Apakah hukum? Apakah ritual? Atau sesuatu yang lebih mendasar dari itu semua? Dalam pemikiran Imam Ali Khamenei qs, misi kenabian Nabi Muhammad bukan hanya peristiwa keagamaan

Penjelasan Singkat Ayatullah Sayyid Ali Khamenei Tentang Sebuah Hadis عَن اَبی عَبدِ اللهِ عَلَیهِ السَّلام قالَ: یَنبَغی لِلمُؤمِنِ اَن یَکونَ فیهِ ثَمانُ خِصالٍ وَقورٌ عِندَ الهَزاهِزِ صَبورٌ عِندَ البَلاءِ شَکورٌ عِندَ الرَّخاءِ قانِعٌ بِما رَزَقَهُ اللهُ لا یَظلِمُ الاَعداءَ وَ لا یَتَحامَلُ لِلاَصدِقاءِ بَدَنُهُ مِنهُ فی تَعَبٍ وَ النّاسُ مِنهُ