

KHAMENEI.ID – Ada penyimpangan yang lahir bukan karena penolakan besar terhadap kebenaran, melainkan karena satu langkah kecil yang dibiarkan terus berjalan. Pada awalnya hampir tidak terlihat. Jaraknya dengan jalan yang benar hanya sejengkal. Namun semakin lama, jarak itu melebar. Sedikit demi sedikit, hati menjadi semakin asing terhadap kebenaran yang dulu

KHAMENEI.ID– Kekuasaan sering kali tidak runtuh karena serangan dari luar. Ia lebih dahulu retak dari dalam, ketika para pemimpinnya mulai hidup dalam dunia yang berbeda dari rakyat yang mereka pimpin. Jarak itu mula-mula hanya tampak dari rumah yang semakin megah, pesta yang semakin meriah, atau iring-iringan kendaraan yang semakin panjang. Namun

KHAMENEI.ID– Ada anggapan yang terus bertahan hingga hari ini: menjadi orang saleh berarti menjauh dari dunia. Kekayaan dicurigai, kemajuan dianggap ancaman, dan kehidupan yang nyaman dipandang sebagai penghalang menuju Tuhan. Padahal, jika menelusuri ajaran Islam lebih dalam, yang ditolak bukanlah dunia itu sendiri, melainkan ketika dunia berubah menjadi pusat tujuan hidup.

KHAMENEI.ID– Ada paradoks yang sering luput kita sadari. Semakin tinggi seseorang berada di puncak kekuasaan, semakin besar pula godaan untuk hidup berbeda dari orang kebanyakan. Jabatan menghadirkan privilese, kekayaan menawarkan kenyamanan, dan popularitas sering melahirkan jarak. Seolah-olah kemuliaan harus selalu ditampilkan melalui kemewahan. Namun sejarah Islam justru memperlihatkan gambaran yang bertolak

KHAMENEI.ID– Di tengah dunia yang bergerak semakin cepat, manusia modern hidup dalam paradoks yang aneh. Kita memiliki lebih banyak fasilitas, tetapi lebih sedikit ketenangan. Kita semakin mudah meraih popularitas, jabatan, dan kekayaan, tetapi semakin sulit menemukan rasa cukup. Di tengah hiruk-pikuk itu, sebuah hadis kuno menghadirkan pertanyaan yang sangat relevan: