

KHAMENEI.ID – Sebuah masyarakat tidak selalu runtuh karena serangan dari luar. Ada kalanya kehancuran justru bermula dari sesuatu yang tumbuh diam-diam di dalam dirinya: keputusan yang diambil tanpa pertimbangan, pendirian yang dipertahankan meski terbukti keliru, kekaguman berlebihan terhadap diri sendiri, dan kebiasaan menunda pekerjaan sampai kesempatan berlalu. Tak ada ledakan besar

KHAMENEI.ID– Ada ironi yang terus berulang dalam sejarah umat Islam: semakin sering persatuan dibicarakan, semakin mudah pula umat terpecah oleh nama, batas, dan identitas. Perbedaan mazhab menjadi jarak. Perbedaan bangsa menjadi kecurigaan. Bahkan penghormatan kepada agama-agama sebelumnya kadang dibaca sebagai alasan untuk menganggap semua keyakinan sama. Padahal Al-Qur’an berbicara dengan cara

KHAMENEI.ID– Ada kata yang kerap terdengar merendahkan di telinga modern: rakyat. Dalam bahasa politik, kata ini bahkan kadang diperlakukan sebagai slogan yang terlalu sederhana, terlalu populis, atau terlalu mudah dipakai untuk mencari tepuk tangan. Namun dalam khazanah politik Islam, terutama dalam pemikiran Imam Ali bin Abi Thalib a.s, rakyat justru menempati

KHAMENEI.ID– Ada masa ketika sebuah bangsa tidak lagi berhadapan dengan satu persoalan, melainkan dengan rangkaian tekanan yang saling berkaitan. Perang, krisis politik, tekanan ekonomi, perebutan pengaruh, dan perang narasi datang bersamaan. Dalam keadaan seperti itu, pertanyaan terpenting bukan hanya siapa yang paling kuat, melainkan siapa yang mampu memahami arah zaman. Pandangan

KHAMENEI.ID– Ada kerusakan yang tidak selalu bermula dari kemiskinan. Kadang ia lahir justru ketika sebagian orang mulai merasa terlalu kaya untuk peduli. Di sebuah masyarakat, jarak antara mereka yang hidup sederhana dan mereka yang mempertontonkan kemewahan bukan sekadar soal gaya hidup. Ia dapat berubah menjadi persoalan moral, bahkan politik, ketika kemewahan

KHAMENEI.ID– Ada masa ketika sebuah bangsa tidak hanya diuji oleh krisis ekonomi atau gejolak politik, melainkan oleh kemampuan untuk tetap berdiri di tengah tekanan yang datang dari berbagai arah. Tekanan itu jarang hadir dalam satu bentuk. Ia bisa muncul sebagai kesulitan hidup, kecemasan sosial, perang informasi, propaganda, bahkan upaya memecah kepercayaan

KHAMENEI.ID– Ada bangsa yang begitu keras mempertahankan prinsipnya, tetapi begitu mudah meminta bangsa lain meninggalkannya. Mereka menyebutnya demokrasi ketika nilai-nilai mereka dipertahankan, tetapi menyebutnya konservatisme ketika bangsa lain melakukan hal yang sama. Di balik perdebatan politik semacam itu tersimpan pertanyaan yang lebih tua dan lebih penting: apa yang membuat sebuah bangsa

KHAMENEI.ID– Ada masa ketika Al-Qur’an hanya hadir sebagai suara. Ia dilantunkan dengan indah, terdengar dari masjid, rumah, perlombaan, atau pengeras suara menjelang subuh. Ayat-ayatnya mengalir, tajwidnya terjaga, lagunya memukau. Tetapi setelah suara itu berhenti, kehidupan berjalan seperti biasa. Al-Qur’an telah didengar, namun belum tentu direnungkan. Telah dibaca, tetapi belum tentu menjadi

KHAMENEI.ID– Sebuah negara tidak selalu runtuh karena kalah dalam perang. Ada kalanya ia melemah jauh sebelum pertempuran dimulai: ketika ilmu pengetahuan mandek, masyarakat kehilangan kepercayaan, pemerintahan tercerabut dari rakyat, dan pertahanan tidak lagi mampu membaca bentuk ancaman yang berubah. Karena itu, kekuatan pertahanan tidak semata-mata perkara jumlah tentara, kecanggihan senjata, atau

KHAMENEI.ID– Ada masa ketika agama kerap dipersempit menjadi urusan kesalehan pribadi: bagaimana seseorang beribadah, menjaga dirinya dari dosa, dan menyempurnakan hubungan dengan Tuhan. Padahal, dalam pandangan Al-Qur’an, iman tidak berhenti di ruang pribadi. Ia memiliki konsekuensi sosial. Ia ikut menentukan seperti apa sebuah masyarakat dibangun, bagaimana kekuasaan dijalankan, dan ke mana

KHAMENEI.ID– Ada bangsa-bangsa yang berhasil membuat hidup manusia lebih mudah, tetapi gagal membuat manusia lebih tenteram. Kota-kota mereka menjulang, teknologi berlari tanpa henti, ilmu pengetahuan membuka pintu-pintu yang dulu dianggap mustahil. Namun di balik semua itu, muncul pertanyaan yang lebih sunyi: untuk apa semua kemajuan itu jika manusia kehilangan ketenangan batin,









