

KHAMENEI.ID – Ada orang yang semakin dipuji semakin sulit melihat kekurangannya sendiri. Ia mengira sanjungan sebagai bukti kebaikan, keselamatan sebagai tanda bahwa dirinya tidak bersalah, dan kelimpahan nikmat sebagai pengakuan bahwa hidupnya berada di jalan yang benar. Tanpa disadari, ia sedang membangun keyakinan tentang dirinya dari hal-hal yang justru belum tentu

KHAMENEI.ID— Musim liburan sering kali identik dengan pelarian. Tiket pesawat diburu, pantai dipadati, gunung didaki, dan media sosial dipenuhi foto perjalanan. Anak muda modern hidup dalam budaya “healing”, sebuah kebutuhan untuk menjauh sejenak dari tekanan hidup. Tidak ada yang salah dengan itu. Tetapi ada satu pertanyaan yang jarang diajukan: apakah

KHAMENEI.ID— Ada satu pertanyaan yang terus menghantui sejarah manusia: mengapa sebagian orang yang tampak saleh, sederhana, bahkan idealis sebelum berkuasa, perlahan berubah ketika berada di puncak kewenangan? Jabatan yang dulu dianggap amanah berubah menjadi alat kepentingan. Kekuasaan yang seharusnya melayani justru mulai menuntut untuk dilayani. Mungkin masalahnya bukan semata-mata pada

KHAMENEI.ID— Ada momen-momen dalam hidup ketika manusia kalah bukan karena lawannya terlalu kuat, melainkan karena dirinya sudah lebih dulu merasa kecil. Rasa takut datang diam-diam, membesar di kepala, lalu melumpuhkan langkah sebelum pertempuran benar-benar dimulai. Di zaman modern, bentuknya bisa bermacam-macam: takut gagal, takut kehilangan pekerjaan, takut melawan ketidakadilan, atau

KHAMENEI.ID— Ada satu ilusi yang diam-diam tumbuh di zaman modern: keyakinan bahwa manusia bisa menaklukkan segalanya dengan kemampuan dirinya sendiri. Teknologi berkembang, ilmu pengetahuan melesat, strategi politik semakin canggih, dan manusia merasa seolah masa depan ada sepenuhnya di tangannya. Kita diajarkan untuk percaya diri, mandiri, dan kompetitif. Tetapi di tengah

KHAMENEI.ID— Ada satu jenis keyakinan yang terasa menenangkan sekaligus berbahaya: merasa aman hanya karena “berada di pihak yang benar”. Dalam kehidupan beragama, perasaan itu sering muncul dalam bentuk yang halus, merasa cukup mencintai keluarga Nabi, cukup mengaku pengikut Ahlul Bait, lalu mengira dosa-dosa akan gugur begitu saja karena identitas spiritual

KHAMENEI.ID— Ada satu jenis kebanggaan yang diam-diam bisa berubah menjadi jebakan: bangga karena merasa berada di pihak yang benar, tetapi lupa menanggung konsekuensi dari kebenaran itu sendiri. Banyak orang dengan mudah memuji Ali bin Abi Thalib a.s. Nama beliau dielu-elukan dalam ceramah, dipajang dalam kaligrafi, dikutip dalam pidato politik, bahkan

KHAMENEI.ID— Ada masyarakat yang hancur bukan karena perang. Bukan pula karena kemiskinan. Mereka runtuh perlahan dari dalam: ketika manusia mulai iri pada kebahagiaan sesamanya, rakus terhadap dunia, dan terbiasa memelintir kebenaran. Barangkali itulah sebabnya Nabi Muhammad saw memberi peringatan yang sangat tajam kepada Imam Ali a.s. Dalam sebuah wasiat yang

KHAMENEI.ID— Ada satu pertanyaan yang jarang benar-benar kita ajukan di tengah hiruk-pikuk krisis sosial hari ini: mengapa sebuah masyarakat bisa rusak secara perlahan, bahkan ketika masjid tetap penuh, sekolah terus berdiri, pasar semakin ramai, dan negara tampak berjalan normal? Kita sering mengira kerusakan bangsa lahir dari rakyat biasa. Dari “orang

KHAMENEI.ID— Ada satu kesalahpahaman yang sering muncul ketika berbicara tentang “perlawanan”. Seolah-olah keberanian cukup diukur dari seberapa keras seseorang berteriak, seberapa cepat bereaksi, atau seberapa nekat menghadapi tekanan. Dalam dunia yang serba impulsif hari ini, di media sosial, politik, bahkan kehidupan sehari-hari, emosi sering dianggap lebih mulia daripada pertimbangan. Padahal

KHAMENEI.ID— Ada sesuatu yang aneh dalam kehidupan umat Islam modern: suara tilawah Al-Qur’an terdengar di mana-mana, tetapi kegelisahan, ketakutan, dan rasa kalah justru semakin meluas. Ayat-ayat suci diperdengarkan dengan merdu di masjid, televisi, bahkan media sosial, namun banyak masyarakat Muslim tetap merasa lemah, mudah putus asa, dan kehilangan arah. Seolah-olah