

KHAMENEI.ID– Di tengah perlombaan global yang semakin sengit, banyak bangsa berlomba membangun kekuatan melalui teknologi, ekonomi, dan militer. Namun ada pertanyaan yang jarang diajukan secara mendalam: dari mana sesungguhnya kekuatan sebuah bangsa berasal? Apakah cukup dari senjata yang canggih, industri yang besar, atau kekayaan alam yang melimpah? Pertanyaan itu menjadi

KHAMENEI.ID— Ada satu gejala aneh dalam kehidupan modern hari ini: manusia bisa sangat serius mempersiapkan karier, investasi, dan masa depan duniawinya, tetapi begitu santai ketika berbicara tentang kematian dan akhir hidupnya sendiri. Orang rela begadang demi target pekerjaan, panik ketika kehilangan uang, dan cemas memikirkan status sosial, tetapi nyaris tidak

KHAMENEI.ID— Ada satu ironi yang perlahan menjadi biasa setiap kali Idulfitri tiba: manusia merayakan kemenangan, tetapi sering lupa apa yang sebenarnya dimenangkan. Jalanan penuh kendaraan, pusat perbelanjaan sesak, media sosial dipenuhi foto kebahagiaan, tetapi hati banyak orang justru kembali kosong beberapa hari setelah takbir berhenti berkumandang. Idulfitri yang semestinya menjadi

KHAMENEI.ID— Ada satu paradoks yang semakin sering terlihat dalam kehidupan keagamaan modern: semakin banyak orang berbicara atas nama moralitas, semakin sedikit yang mampu menyampaikannya dengan kelembutan. Nasihat berubah menjadi kemarahan. Dakwah terasa seperti penghakiman. Amar makruf nahi mungkar,yang seharusnya menjadi jalan merawat masyarakat, kadang justru tampil sebagai sumber ketegangan sosial.

KHAMENEI.ID— Ada kecenderungan menarik dalam cara sebagian orang memahami agama: mereka lebih sibuk meniru bentuk luar daripada menangkap ruhnya. Ukuran kesalehan sering dipersempit menjadi model pakaian, gaya bicara, simbol-simbol lahiriah, atau nostalgia visual terhadap masa silam. Padahal, sejarah para tokoh besar Islam justru berbicara tentang sesuatu yang jauh lebih dalam:

KHAMENEI.ID— Ada ironi yang terus berulang dalam sejarah manusia: hampir semua orang memuji keadilan, tetapi tidak banyak yang siap menanggung konsekuensinya. Orang ingin pemimpin yang bersih, selama kebersihan itu tidak menyentuh kepentingannya. Mereka mendukung perubahan, selama perubahan itu tidak mengganggu privilese yang telah lama dinikmati. Kisah pemerintahan Ali bin Abi

KHAMENEI.ID— Ada satu pemandangan yang selalu berulang setiap tahun setelah Ramadan berakhir: masjid mulai sepi, lantunan doa perlahan menghilang, dan manusia kembali tenggelam dalam ritme hidup yang tergesa-gesa. Malam-malam yang sebelumnya dipenuhi shalat, tangis, dan tilawah berubah kembali menjadi layar ponsel, jadwal pekerjaan, dan kesibukan tanpa jeda. Ramadan lewat begitu

Pernahkah Anda membayangkan sebuah dunia di mana seorang perempuan bekerja sepanjang hari seperti laki-laki, pulang ke rumah, lalu memulai “shift kedua” sebagai pengurus rumah tangga dan pengasuh anak—tanpa ada satu pun dokumen internasional yang mengakui beban ganda ini? Dunia itu bukan fiksi ilmiah. Itulah realitas yang diciptakan oleh dokumen-dokumen hak

“Keluarga bukan sekadar unit sosial—ia adalah batu penjuru peradaban.” Itulah pesan tegas yang disampaikan Imam Ali Khamenei, Pemimpin Besar Revolusi Islam dalam pengumuman bersejarah pada 13 September 2016. Sebuah dokumen kebijakan yang tidak hanya mengatur, tetapi merancang ulang seluruh tatanan kehidupan berkeluarga dalam bingkai masyarakat Islam. Berikut ini terjemahan resmi

KHAMENEI.ID – Dalam dunia politik modern yang dipenuhi diplomasi, negosiasi, dan janji kerja sama internasional, Imam Ali Khamenei qs mengajukan satu peringatan yang terdengar keras sekaligus kontras: “Jangan percaya kepada musuh.” Kalimat itu bukan sekadar slogan politik, melainkan inti dari pandangannya tentang hubungan dunia Islam dengan kekuatan-kekuatan global yang ia anggap

KHAMENEI.ID – Di era ketika riset ilmiah diukur oleh jumlah publikasi, ranking universitas, dan dana sponsor internasional, muncul pertanyaan yang jarang diajukan secara serius: benarkah ilmu hari ini sepenuhnya bebas? Di sini, Imam Ali Khamenei qs mengingatkan bahwa ancaman terbesar terhadap dunia ilmu bukan hanya keterbelakangan, tetapi juga hilangnya kemandirian