

KHAMENEI.ID – Sebuah masyarakat tidak selalu runtuh karena serangan dari luar. Ada kalanya kehancuran justru bermula dari sesuatu yang tumbuh diam-diam di dalam dirinya: keputusan yang diambil tanpa pertimbangan, pendirian yang dipertahankan meski terbukti keliru, kekaguman berlebihan terhadap diri sendiri, dan kebiasaan menunda pekerjaan sampai kesempatan berlalu. Tak ada ledakan besar

KHAMENEI.ID– Ada masa ketika kebingungan bukan lagi akibat kurangnya informasi, melainkan karena terlalu banyak suara yang berebut menentukan apa yang dianggap benar. Fakta datang bersamaan dengan tuduhan, opini bercampur dengan kebohongan, dan emosi bergerak lebih cepat daripada akal sehat. Di tengah keadaan semacam itu, sebuah kata menjadi penting: tabyin menjelaskan, menerangkan,

KHAMENEI.ID– Ada bangsa yang bertahun-tahun hidup dari pengetahuan orang lain. Ia membaca buku yang ditulis di negeri lain, memakai teori yang dirumuskan di universitas asing, mengimpor teknologi yang tak sepenuhnya ia pahami, lalu menyebut dirinya berkembang. Pengetahuan datang seperti barang jadi: diterima, digunakan, dikagumi. Tetapi ada pertanyaan yang pelan-pelan menjadi semakin

KHAMENEI.ID– Sebuah revolusi bisa jatuh bukan hanya karena musuh datang dari luar. Ia juga dapat kehilangan arah ketika orang-orang di dalamnya terlalu sibuk mengurus hari ini, sampai lupa bertanya: ke mana sebenarnya perjalanan ini hendak dibawa? Pertanyaan semacam itu terasa penting ketika sebuah gerakan politik telah melewati usia mudanya. Pada masa

KHAMENEI.ID – Di sebuah perekonomian yang sehat, ada hubungan yang sederhana tetapi mendasar: seseorang memperoleh pendapatan karena ia bekerja, mencipta, menghasilkan, atau memberikan sesuatu yang bernilai. Ketika hubungan itu terputus, persoalannya bukan lagi sekadar soal kesenjangan pendapatan. Ia dapat berubah menjadi persoalan budaya, bahkan menjadi sumber korupsi yang merusak struktur masyarakat.

KHAMENEI.ID– Ada ironi dalam sejarah sebuah bangsa: tekanan yang dimaksudkan untuk melemahkan kadang justru memaksa bangsa itu menemukan kekuatannya sendiri. Pintu-pintu ditutup, akses dipersempit, perdagangan dipersulit. Namun di balik semua itu, ada pertanyaan yang lebih menentukan: apa yang dilakukan sebuah bangsa ketika ia tak lagi bisa terlalu bergantung kepada orang lain?

KHAMENEI.ID– Ada masa ketika manusia takut pada senjata karena senjata dapat membunuh tubuh. Kini ada sesuatu yang bekerja lebih pelan, lebih halus, dan karena itu sering luput dari perhatian: media. Ia tidak selalu menghancurkan bangunan atau menumpahkan darah. Ia cukup mengubah cara manusia melihat dunia, menentukan apa yang dianggap penting, siapa

KHAMENEI.ID– Ada kekuatan yang tidak selalu tampak dalam statistik ekonomi, jumlah persenjataan, atau luas wilayah. Ia tumbuh lebih pelan, tetapi justru karena itu sulit diukur: kesadaran manusia untuk menolak ketundukan. Dalam sejarah politik dunia Islam, kesadaran semacam ini kerap disebut kebangkitan Islam, sebuah keadaan ketika agama tidak lagi berhenti sebagai keyakinan

KHAMENEI.ID– Ada bangsa yang lama hidup dalam sejarah, tetapi tidak selalu menjadi penentu sejarahnya sendiri. Nama mereka tercatat dalam buku-buku, kekuasaan silih berganti, kerajaan tumbuh dan runtuh, tetapi rakyat tetap berada di pinggir panggung. Mereka menyaksikan keputusan besar dibuat atas nama mereka, tanpa benar-benar diminta menentukan ke mana negeri itu hendak

KHAMENEI.ID– Ada ironi yang terus berulang dalam sejarah umat Islam: semakin sering persatuan dibicarakan, semakin mudah pula umat terpecah oleh nama, batas, dan identitas. Perbedaan mazhab menjadi jarak. Perbedaan bangsa menjadi kecurigaan. Bahkan penghormatan kepada agama-agama sebelumnya kadang dibaca sebagai alasan untuk menganggap semua keyakinan sama. Padahal Al-Qur’an berbicara dengan cara

KHAMENEI.ID– Ada kata yang kerap terdengar merendahkan di telinga modern: rakyat. Dalam bahasa politik, kata ini bahkan kadang diperlakukan sebagai slogan yang terlalu sederhana, terlalu populis, atau terlalu mudah dipakai untuk mencari tepuk tangan. Namun dalam khazanah politik Islam, terutama dalam pemikiran Imam Ali bin Abi Thalib a.s, rakyat justru menempati









