

Kini tibalah momen agung pertemuan dua jiwa yang diridhai Allah. Dua insan muda, dengan kesadaran penuh, hendak mengarungi hidup bergandengan tangan menuju tujuan tertinggi. Sungguh, ikatan ini begitu dalam dan penting. Naluri menginginkan pasangan, jiwa yang gelisah mendambakan teman hidup, dan ruh yang resah merasa tak sempurna tanpa belahan jiwa.

Ada momen dalam sejarah ketika sebuah peradaban menoleh ke belakang, lalu tiba-tiba menyadari bahwa ia sebenarnya berdiri di atas harta karun yang selama ini terabaikan. Dalam salah satu ceramahnya, Imam Ali Khamenei qs menggambarkan momen itu sedang terjadi di dunia Islam hari ini. Para intelektual, generasi muda, dan masyarakat luas—katanya—mulai

Ada masa ketika senyum terasa lebih berbahaya daripada ancaman. Ia datang tanpa dentuman, tanpa suara keras, hanya sebuah bisikan yang menenangkan. Dalam salah satu ceramahnya, Imam Ali Khamenei qs mengingatkan bahwa sejarah berkali-kali memperlihatkan bagaimana bangsa atau individu justru tumbang bukan karena serangan langsung, melainkan karena tertidur oleh rasa aman

Ada satu anggapan yang kerap terdengar setiap kali agama bersentuhan dengan politik: bukankah lebih baik lembaga keagamaan tetap netral, menjauh dari konflik, dan fokus pada urusan spiritual? Bukankah dengan begitu wibawa mereka akan lebih terjaga? Dalam sejumlah ceramahnya, Imam Ali Khamenei menyebut gagasan ini sebagai sebuah kekeliruan logika—sebuah ilusi yang

Ada satu pertanyaan yang kerap muncul setiap kali bangsa menghadapi tekanan besar: apakah harapan masih rasional ketika semua tanda di permukaan tampak suram? Dalam sejumlah pidatonya, Imam Ali Khamenei qs mengajak pendengarnya melihat satu faktor yang sering dianggap terlalu sederhana—bahkan naif—namun justru menentukan arah sejarah: kepercayaan pada janji Tuhan. Bagi

KHAMENEI.ID— Syarah Hadits Oleh Ayatullah Sayyid Ali Khamenei qs pada Awal Pelajaran Fikih Tingkat Tinggi tentang Tugas Orang-Orang Kaya, 10 Maret 2019 Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, dan salawat serta salam atas junjungan kita Muhammad saw dan keluarga beliau

Ledakan bom di Gaza tidak hanya meruntuhkan rumah, sekolah, dan rumah sakit. Ia juga meruntuhkan satu mitos besar yang selama puluhan tahun dipoles rapi: mitos tentang kemanusiaan, hak asasi manusia, dan moralitas universal yang konon menjadi fondasi peradaban Barat. Dalam berbagai ceramahnya, Imam Ali Khamenei qs berulang kali mengingatkan bahwa

Sejarah sering bergerak diam-diam—hingga suatu hari ia meledak menjadi kesadaran global. Dalam beberapa tahun terakhir, dunia menyaksikan sebuah kata yang semakin sering terdengar dari Timur Tengah hingga kampus-kampus Barat: resistensi. Ia bukan sekadar slogan politik, melainkan istilah yang menjelma menjadi identitas, gerakan, bahkan harapan. Dalam kerangka pemikiran yang konsisten disampaikan

Ada paradoks yang sunyi namun nyata di dunia Islam hari ini: kitab suci dibaca di mana-mana, tetapi cahaya yang dijanjikannya belum sepenuhnya menyinari kehidupan umat. Masjid penuh, lantunan ayat menggema, tetapi kebingungan, perpecahan, dan konflik tetap mengintai. Pertanyaannya sederhana sekaligus mengguncang: apakah kita benar-benar bertemu dengan Al-Qur’an, atau sekadar mendengarnya?

Di banyak sudut dunia Islam hari ini, sebuah paradoks terasa semakin terlihat jelas. Islam kerap hadir sebagai nama, tetapi justru dipakai untuk melawan Islam itu sendiri. Fenomena ini bukan sekadar konflik teologis, melainkan pergulatan identitas, politik, dan kekuasaan. Di tengah kabut itulah muncul istilah yang diinisiasi oleh Imam Khomeini ra

KHAMENEI.ID— Ada masa ketika jabatan dipandang sebagai beban. Bukan kehormatan, apalagi kesempatan memperkaya diri. Ia dipikul dengan rasa takut, dijalani dengan kehati-hatian, dan ditinggalkan tanpa penyesalan. Tapi zaman berubah. Hari ini, kekuasaan sering tampak seperti pintu menuju kenyamanan: rumah besar, fasilitas mewah, pengaruh sosial, dan lingkar elite yang sulit disentuh