

KHAMENEI.ID – Ada yang lebih berbahaya daripada melakukan kesalahan: kehilangan kemampuan untuk menyadari bahwa dirinya sedang salah. Sebab, selama seseorang masih bersedia menegur dirinya sendiri, masih ada pintu yang terbuka untuk kembali. Namun, ketika suara hati mulai bungkam, kesalahan dapat tumbuh menjadi kebiasaan, kebiasaan menjelma pembenaran dan pembenaran perlahan membentuk watak

KHAMENEI.ID – Setiap tahun, dunia menyaksikan sebuah fenomena yang sulit ditemukan tandingannya dalam sejarah manusia. Jutaan orang berjalan menuju satu tujuan yang sama: Karbala. Mereka berasal dari berbagai negara, bahasa, budaya, bahkan mazhab. Mereka tidak disatukan oleh kepentingan politik ataupun ekonomi, melainkan oleh cinta kepada Imam Husain as dan keyakinan

KHAMENEI.ID – Setiap tahun, jutaan manusia berjalan kaki menuju Karbala. Mereka menempuh puluhan kilometer di bawah terik matahari, melewati jalan-jalan panjang yang melelahkan, tanpa imbalan materi, tanpa fasilitas mewah, bahkan sering kali harus menghadapi berbagai keterbatasan. Namun, arus manusia itu tidak pernah surut. Justru dari tahun ke tahun semakin besar.

KHAMENEI.ID – Tafsir Surah Al-Baqarah ayat 5 menurut Syahid Ali Khamenei menjelaskan bahwa enam ciri orang bertakwa mengantarkan manusia kepada hidayah Allah dan keberhasilan sejati (al-muflihun). Setelah menjelaskan enam karakter orang bertakwa pada awal Surah Al-Baqarah, Al-Qur’an tidak berhenti pada penyebutan sifat-sifat tersebut. Allah swt kemudian menunjukkan buah yang akan

KHAMENEI.ID – Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 4 bersama Imam Khamenei qs tentang hubungan antara iman kepada akhirat dan arah kehidupan manusia. Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern, manusia sering bertindak seolah hidup hanya berhenti pada hari ini. Keputusan diambil berdasarkan keuntungan sesaat, kebenaran diukur oleh manfaat jangka pendek, dan keberhasilan dinilai

KHAMENEI.ID– Dalam dunia politik, kemenangan sering diperlakukan sebagai tujuan akhir. Selama hasilnya tercapai, cara apa pun kerap dianggap sah. Kebohongan dibungkus sebagai strategi, ketidakadilan disebut kompromi, dan pembagian fasilitas kepada kelompok tertentu dipoles sebagai langkah realistis demi menjaga stabilitas. Di tengah cara pandang seperti itu, sikap Imam Ali a.s menawarkan sesuatu

KHAMENEI.ID– Ada ironi yang berulang dalam sejarah manusia: tokoh-tokoh terbesar justru paling sering gagal dipahami oleh orang-orang yang hidup sezaman dengan mereka. Mereka dikenang sebagai pahlawan setelah wafat, tetapi ketika masih hidup, mereka sering dibiarkan berjuang sendirian. Itulah yang dialami Imam Ali bin Abi Thalib a.s. Sosok yang oleh banyak sejarawan

KHAMENEI.ID– Setiap zaman memiliki penyakitnya sendiri. Ada masa ketika manusia takut pada kelaparan, ada masa ketika peperangan menjadi ancaman terbesar. Namun hari ini, di tengah kemajuan teknologi yang belum pernah terjadi sebelumnya, manusia justru berhadapan dengan krisis yang lebih sunyi: kehilangan makna hidup. Dunia modern dipenuhi gedung-gedung tinggi, kecerdasan buatan, dan

KHAMENEI.ID– Kekuasaan sering kali tidak runtuh karena serangan dari luar. Ia lebih dahulu retak dari dalam, ketika para pemimpinnya mulai hidup dalam dunia yang berbeda dari rakyat yang mereka pimpin. Jarak itu mula-mula hanya tampak dari rumah yang semakin megah, pesta yang semakin meriah, atau iring-iringan kendaraan yang semakin panjang. Namun

KHAMENEI.ID– Setiap kali masyarakat dilanda kekacauan, satu pertanyaan selalu muncul: bagaimana memperlakukan orang-orang yang berada di dalam pusaran itu? Apakah semua harus dipandang sebagai musuh? Ataukah ada perbedaan antara mereka yang terseret arus dan mereka yang sengaja menciptakan kerusakan? Sejarah menunjukkan bahwa pada saat-saat penuh gejolak, justru kebijaksanaan sering menjadi korban

KHAMENEI.ID– Ada satu kesalahpahaman yang diam-diam mengakar dalam cara sebagian orang memandang peran ulama. Seolah-olah tugas mereka selesai ketika pintu masjid dibuka, mimbar telah disiapkan, lalu umat datang untuk mendengar. Dalam gambaran ini, ulama menjadi sosok yang menunggu. Padahal sejarah Islam justru memperlihatkan kebalikannya: mereka yang membawa cahaya agama selalu menjadi