

KHAMENEI.ID – Manusia sering kali sibuk mempersiapkan masa depan, tetapi lupa memikirkan untuk apa sebenarnya masa depan itu dijalani. Kita hidup dalam masyarakat yang sangat menghargai pencapaian. Pendidikan dinilai dari peluang pekerjaan yang dihasilkan. Pekerjaan diukur dari besarnya penghasilan. Kesuksesan sering kali ditentukan oleh kepemilikan, jabatan, dan kemampuan menikmati kehidupan.

KHAMENEI.ID– Ada masa ketika sebuah bangsa merasa sedang bergerak maju, padahal sesungguhnya sedang berjalan menjauh dari dirinya sendiri. Jalan raya dibangun, gedung-gedung menjulang, gaya hidup berubah, dan kata “modern” dielu-elukan sebagai tanda kemajuan. Namun, di balik semua itu, diam-diam terjadi sesuatu yang lebih dalam: cara berpikir mulai dipinjam, ukuran benar dan

KHAMENEI.ID– Setiap zaman memiliki wajah penderitaannya sendiri. Dahulu, manusia diperbudak oleh berhala dan penguasa yang menganggap dirinya tuhan. Hari ini, bentuknya mungkin berganti menjadi kerakusan, ketimpangan sosial, manipulasi informasi, atau penyembahan terhadap kekuasaan dan materi. Wajahnya berubah, tetapi akar masalahnya tetap sama: manusia kehilangan arah dan melupakan jati dirinya. Di situlah

KHAMENEI.ID – Setiap kali isu perempuan Iran muncul dalam pemberitaan internasional, narasi yang paling sering diangkat adalah tentang “penindasan” dan “pembelaan hak-hak perempuan”. Namun, menurut Imam Ali Khamenei qs, di balik slogan-slogan tersebut tersembunyi persoalan yang jauh lebih mendasar. Yang dipersoalkan Barat bukan semata-mata hak perempuan, melainkan posisi strategis perempuan

KHAMENEI.ID – Lanjutan tafsir Al-Baqarah ayat 2; mengapa hidayah Al-Qur’an dikhususkan bagi muttaqin, dan bagaimana ketakwaan dipelihara melalui amal praktis? Ada satu pertanyaan yang jarang diajukan ketika membaca Al-Qur’an. Jika kitab ini diturunkan sebagai petunjuk bagi seluruh manusia, mengapa pada awal Surah Al-Baqarah justru disebut sebagai petunjuk bagi orang-orang bertakwa?

KHAMENEI.ID – Dalam pandangan Imam Khamenei, awal surah Al-Baqarah menjelaskan secara gamblang tentang kedudukan “hidayah” sebagai tema sentral Al-Qur’an Setiap orang memiliki jawaban berbeda ketika ditanya, “Apa sebenarnya Al-Qur’an itu?” Sebagian melihatnya sebagai kitab suci yang dibaca saat Ramadan. Sebagian lain memandangnya sebagai kumpulan hukum, sumber pahala, atau bacaan ibadah.

KHAMENEI.ID – Apa yang membuat sebuah bangsa tetap bertahan ketika dihimpit perang, sanksi ekonomi, tekanan politik, bahkan kehilangan tokoh-tokoh terbaiknya? Sebagian akan menjawab: kekuatan militer. Sebagian lain menyebut ekonomi, teknologi, atau diplomasi. Semua itu memang penting. Namun, menurut Imam Ali Khamenei qs, ada satu fondasi yang sering luput dari perhatian,

KHAMENEI.ID – Di zaman yang serba cepat, manusia semakin sulit menunggu. Kita ingin perubahan terjadi seketika. Program pembangunan harus langsung berhasil. Perjuangan harus segera membuahkan kemenangan. Bahkan doa pun sering kali diharapkan mendapat jawaban secepat notifikasi di layar telepon genggam. Ketika harapan tidak segera menjadi kenyataan, yang muncul bukan lagi

KHAMENEI.ID – Universitas sering dibayangkan sebagai tempat orang-orang berilmu berkumpul. Di sana mahasiswa belajar, dosen mengajar, laboratorium melakukan penelitian, dan para akademisi mengejar penemuan baru. Namun, bagi Syahid Ayatollah Ali Khamenei qs, pengertian universitas tidak berhenti pada aktivitas akademik semata. Universitas, katanya, adalah tempat ilmu. Kalimat ini terdengar sederhana. Tetapi

KHAMENEI.ID– Ada banyak cara seseorang berbuat baik. Bersedekah, membangun rumah ibadah, membantu sesama, atau menghabiskan waktu untuk berbagai kegiatan sosial. Namun ada satu perbuatan yang sering dianggap sepele, padahal dampaknya begitu besar: menzalimi pekerja. Kezahatan itu tidak selalu berupa kekerasan atau penghinaan. Kadang ia hadir dalam bentuk yang jauh lebih halus:

KHAMENEI.ID– Ada satu cara pandang yang diam-diam membentuk kehidupan manusia modern: keyakinan bahwa hidup dimulai saat lahir, berakhir saat mati, lalu selesai. Dalam pandangan ini, manusia hanyalah makhluk biologis yang diberi waktu singkat untuk menikmati dunia sebelum akhirnya lenyap. Tak heran jika kebebasan kemudian diukur dari seberapa luas seseorang bisa memuaskan