

KHAMENEI.ID– Kekuasaan sering kali diukur dari angka. Berapa besar pertumbuhan ekonomi, seberapa tinggi investasi, atau berapa banyak pembangunan yang berhasil diwujudkan. Semua itu penting. Namun dalam pandangan Islam, ada ukuran yang jauh lebih mendasar daripada sekadar keberhasilan administratif. Seorang pemimpin tidak hanya diminta mengatur kehidupan dunia, tetapi juga membantu manusia menemukan

Makna Ar-Rahman dan Ar-Rahim Ar-Rahman dan Ar-Rahim keduanya diambil dari akar kata “Rahmat”, namun dengan dua perhatian dan sudut pandang yang berbeda. Ar-Rahman: Adalah sighah mubalaghah (bentuk hiperbolis). Dalam bahasa Arab, salah satu bentuk mubalaghah adalah fa’lan. Rahman menunjukkan banyaknya rahmat dan limpahan rahmat; menunjukkan luasnya lingkaran rahmat Ilahi. Ar-Rahim:

Bismillahirrahmanirrahim Kami telah menyampaikan pendahuluan mengenai keharusan menafsirkan Al-Qur’an dan keharusan merujuk kepadanya, serta metode kerja tafsirnya. Ringkasnya adalah bahwa dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an, kami lebih memperhatikan kebutuhan masyarakat berbahasa Persia saat ini, yaitu mengetahui terjemahan yang jelas dan lancar dari Al-Qur’an, kemudian menjelaskan konsep-konsep Al-Qur’an pada tingkat menengah. (Maksud

Ada satu pertanyaan sederhana yang sering luput kita ajukan: jika kenabian adalah peristiwa terbesar dalam sejarah manusia, sebenarnya hadiah apa yang dibawanya untuk dunia? Apakah hukum? Apakah ritual? Atau sesuatu yang lebih mendasar dari itu semua? Dalam pemikiran Imam Ali Khamenei qs, misi kenabian Nabi Muhammad bukan hanya peristiwa keagamaan

Penjelasan Singkat Ayatullah Sayyid Ali Khamenei Tentang Sebuah Hadis عَن اَبی عَبدِ اللهِ عَلَیهِ السَّلام قالَ: یَنبَغی لِلمُؤمِنِ اَن یَکونَ فیهِ ثَمانُ خِصالٍ وَقورٌ عِندَ الهَزاهِزِ صَبورٌ عِندَ البَلاءِ شَکورٌ عِندَ الرَّخاءِ قانِعٌ بِما رَزَقَهُ اللهُ لا یَظلِمُ الاَعداءَ وَ لا یَتَحامَلُ لِلاَصدِقاءِ بَدَنُهُ مِنهُ فی تَعَبٍ وَ النّاسُ مِنهُ

Ada masa ketika masa depan terasa seperti lorong panjang tanpa ujung. Gelap, sunyi, dan membingungkan. Orang-orang bergerak, tetapi tak benar-benar tahu ke mana hendak menuju. Dalam situasi seperti itu, yang paling melelahkan bukanlah perjuangan itu sendiri, melainkan ketiadaan arah. Dan sejarah, berkali-kali, menunjukkan bahwa satu gagasan yang tepat bisa mengubah

Umat Jika pada bagian sebelumnya haji dipahami sebagai perjalanan menaklukkan ego, maka ayat berikutnya membuka lapisan yang lebih luas: haji bukan hanya perjalanan spiritual pribadi, tetapi juga proyek peradaban. Ia bukan sekadar ibadah individu, melainkan pertemuan akbar umat manusia yang sarat manfaat—manfaat spiritual, sosial, bahkan politik dalam arti paling luas.

Setiap tahun, jutaan orang pulang dari Mekkah dengan label baru: haji. Gelar sosial yang melekat, foto kenangan yang tersimpan, kisah perjalanan yang diceritakan ulang. Namun sebuah pertanyaan sering luput diajukan: apa sebenarnya yang dibawa pulang dari perjalanan itu selain pengalaman spiritual pribadi? Pertanyaan inilah yang menjadi benang merah dalam banyak

Kekuasaan selalu memikat. Ia menjanjikan pengaruh, kendali, dan—sering kali—kehormatan. Dalam percakapan sehari-hari, ketika orang menyebut “pemerintahan”, yang terbayang biasanya adalah kursi-kursi tinggi, keputusan besar, dan tangan-tangan yang menentukan arah nasib banyak orang. Namun, di balik gemerlap itu, terselip satu pertanyaan yang jarang diajukan secara jujur: apakah pemerintahan memang tujuan utama,

Ada satu kecenderungan yang diam-diam tumbuh di banyak kepala: menganggap dunia dan akhirat sebagai dua kutub yang harus dipilih salah satunya. Seolah-olah semakin kita mencintai kehidupan dunia—bekerja, merancang masa depan, membangun keluarga—semakin jauh pula kita dari akhirat. Sebaliknya, semakin kita tenggelam dalam ibadah dan spiritualitas, semakin kita dituntut menjauh dari

Ada satu pertanyaan yang kerap luput ketika kita berbicara tentang ketahanan, perjuangan, dan perubahan: mengapa sebagian orang mampu bertahan begitu lama, sementara yang lain runtuh di tengah jalan?