Akhlak

Empat Sifat yang Perlahan Menghancurkan Sebuah Masyarakat

KHAMENEI.ID – Sebuah masyarakat tidak selalu runtuh karena serangan dari luar. Ada kalanya kehancuran justru bermula dari sesuatu yang tumbuh diam-diam di dalam dirinya: keputusan yang diambil tanpa pertimbangan, pendirian yang dipertahankan meski terbukti keliru, kekaguman berlebihan terhadap diri sendiri, dan kebiasaan menunda pekerjaan sampai kesempatan berlalu. Tak ada ledakan besar

Benarkah Perempuan “Kurang Akal”? Membaca Ulang Hadis dalam Bayang-Bayang Sejarah

KHAMENEI.ID– Ada kalimat yang mungkin termasuk paling sering dikutip sekaligus paling sering disalahpahami dalam khazanah Islam: “Perempuan itu kurang akal.” Potongan kalimat itu beredar begitu saja, lepas dari konteks sejarah, hingga akhirnya berubah menjadi semacam stempel yang dianggap membenarkan anggapan bahwa perempuan secara kodrati berada di bawah laki-laki. Padahal, pertanyaan yang

Imam Ali dan Seni Berdialog dengan Lawan: Ketika Argumentasi Lebih Tajam daripada Pedang

KHAMENEI.ID– Di tengah dunia yang semakin bising oleh caci maki, perdebatan politik sering berubah menjadi perlombaan saling menjatuhkan. Lawan dianggap musuh yang harus dilenyapkan, bukan manusia yang masih mungkin diajak berbicara. Akibatnya, ruang publik kehilangan sesuatu yang paling mendasar: kemampuan untuk berdialog dengan akal sehat. Padahal, sejarah pernah memperlihatkan teladan yang

Zuhud: Syarat Tuhan untuk Mengangkat Derajat Manusia

KHAMENEI.ID– Ada anggapan yang terus bertahan hingga hari ini: menjadi orang saleh berarti menjauh dari dunia. Kekayaan dicurigai, kemajuan dianggap ancaman, dan kehidupan yang nyaman dipandang sebagai penghalang menuju Tuhan. Padahal, jika menelusuri ajaran Islam lebih dalam, yang ditolak bukanlah dunia itu sendiri, melainkan ketika dunia berubah menjadi pusat tujuan hidup.

Baiat dalam Islam: Ketika Legitimasi Kekuasaan Bertumpu pada Pilihan Rakyat

KHAMENEI.ID– Kekuasaan sering kali dipahami sebagai sesuatu yang lahir dari kekuatan: siapa yang paling berkuasa, dialah yang memerintah. Sejarah dipenuhi kisah tentang takhta yang diwariskan melalui darah, direbut lewat pedang, atau dipertahankan dengan ketakutan. Namun Islam menawarkan gagasan yang jauh lebih menarik. Seorang pemimpin, betapapun mulianya kedudukannya, tidak cukup hanya merasa

Ketika Dunia Membuat Kita Lupa: Peringatan Imam Ali tentang Tipu Daya Kehidupan

KHAMENEI.ID– Ada sesuatu yang ganjil dalam hubungan manusia dengan dunia. Hampir semua orang sadar bahwa hidup ini sementara. Kita menyaksikan kematian, kehilangan, dan perubahan setiap hari. Namun anehnya, kesadaran itu tidak serta-merta membuat kita menjaga jarak. Justru sebaliknya. Semakin lama hidup, semakin banyak yang merasa dunia adalah tempat menetap, bukan sekadar

Makna Ghadir: Ketika Kepemimpinan Berpadu dengan Kesucian

KHAMENEI.ID– Ada banyak cara memilih pemimpin. Sebagian mengandalkan suara mayoritas, sebagian lagi bertumpu pada garis keturunan, kekuatan politik, atau pengaruh ekonomi. Namun, peristiwa Ghadir menawarkan sebuah gagasan yang sama sekali berbeda: bagaimana jika pemimpin tertinggi sebuah masyarakat bukan sekadar orang yang paling populer atau paling kuat, melainkan manusia yang paling bersih

Kekuasaan sebagai Amanah: Antara Hak dan Tanggung Jawab dalam Pandangan Imam Ali

KHAMENEI.ID– Di zaman ketika jabatan sering dipandang sebagai puncak prestise, gagasan bahwa kekuasaan adalah beban terasa hampir asing. Politik dipenuhi perlombaan merebut kursi, sementara keberhasilan kerap diukur dari seberapa tinggi seseorang mampu mendaki tangga kekuasaan. Namun, di tengah hiruk-pikuk itu, Nahjul Balaghah menghadirkan pandangan yang jauh lebih dalam: pemerintahan bukan sekadar

Mab’ats Nabi: Cahaya yang Menembus Kegelapan Dunia

KHAMENEI.ID– Ada masa ketika manusia merasa dirinya berada di puncak peradaban, tetapi sesungguhnya sedang berjalan dalam gelap. Jalan-jalan kota ramai, kerajaan-kerajaan berdiri megah, ilmu berkembang di tangan segelintir orang, dan kekuasaan tampak kokoh. Namun di balik kemegahan itu, manusia kehilangan arah. Kekuatan menggantikan keadilan, kesombongan menutupi nurani, dan kekerasan dianggap sebagai

Al-Qur’an sebagai Cahaya: Mengapa Manusia Modern Masih Membutuhkan Petunjuk Nabi?

KHAMENEI.ID– Ada anggapan bahwa semakin maju sebuah peradaban, semakin sedikit manusia membutuhkan agama. Teknologi dianggap cukup menggantikan kebijaksanaan, sementara kemajuan ekonomi diyakini mampu menghapus penderitaan. Namun, kenyataan justru memperlihatkan paradoks. Di tengah kemudahan yang belum pernah dinikmati generasi sebelumnya, dunia tetap dipenuhi perang, ketimpangan, krisis kemanusiaan, dan kegelisahan yang sulit dijelaskan.

Menaklukkan Rintangan dengan Tawakal kepada Allah

KHAMENEI.ID– Ada masa ketika sebuah bangsa, sebuah komunitas, bahkan seorang manusia merasa jalan di depannya seolah tertutup rapat. Hambatan datang dari segala arah: tekanan, ketidakadilan, keterbatasan, hingga rasa putus asa yang perlahan menggerus keyakinan. Dalam situasi seperti itu, pertanyaan yang muncul bukan lagi bagaimana meraih kemenangan, melainkan apakah kemenangan itu masih