

KHAMENEI.ID– Ada kesedihan yang tidak lahir karena kekalahan. Ia justru muncul ketika kemenangan telah lewat, peperangan telah usai, tetapi sahabat-sahabat seperjuangan satu per satu telah tiada. Kesedihan semacam itulah yang pernah menyelimuti hati Imam Ali bin Abi Thalib a.s. Bukan kesedihan seorang pemimpin yang kehilangan kekuasaan, melainkan duka seorang manusia yang

KHAMENEI.ID— Ada satu jenis keyakinan yang terasa menenangkan sekaligus berbahaya: merasa aman hanya karena “berada di pihak yang benar”. Dalam kehidupan beragama, perasaan itu sering muncul dalam bentuk yang halus, merasa cukup mencintai keluarga Nabi, cukup mengaku pengikut Ahlul Bait, lalu mengira dosa-dosa akan gugur begitu saja karena identitas spiritual

KHAMENEI.ID— Ada sesuatu yang ganjil dalam cara manusia modern memandang kematian. Kita hidup di zaman yang memuja keselamatan, kenyamanan, dan umur panjang, tetapi diam-diam kehilangan pemahaman tentang makna hidup itu sendiri. Orang takut mati, bukan hanya karena kehilangan dunia, tetapi karena sering kali hidup mereka sendiri terasa belum benar-benar bermakna.

KHAMENEI.ID— Dunia modern terus berbicara tentang kemajuan, tetapi diam-diam gagal menjawab satu pertanyaan paling tua dalam sejarah manusia: mengapa keadilan selalu terasa begitu jauh? Teknologi berkembang luar biasa, gedung-gedung menjulang, kecerdasan buatan semakin canggih, tetapi manusia tetap hidup di tengah jurang ketimpangan. Sebagian kecil orang menguasai hampir seluruh kekayaan dunia,

KHAMENEI.ID— Ada kematian yang berhenti di liang kubur. Ada pula kematian yang justru memulai sejarah panjang tentang perlawanan, ingatan, dan nurani manusia. Kesyahidan Imam Ali a.s dan Imam Husain a.s termasuk jenis yang kedua. Tubuh mereka memang terkubur, tetapi darah mereka terus bergerak melintasi zaman, menggugat kekuasaan, menampar kemunafikan, dan

KHAMENEI.ID— Ada sesuatu yang ironis dalam kehidupan modern: manusia semakin pandai menghitung waktu, tetapi semakin gagal menghargainya. Kita menciptakan jam digital, kalender elektronik, aplikasi produktivitas, bahkan kecerdasan buatan untuk menghemat menit demi menit kehidupan. Namun di tengah semua itu, manusia justru makin merasa hidupnya kosong, terburu-buru, dan kehilangan makna. Waktu

KHAMENEI.ID—Setiap hari jutaan Muslim membaca Surah Al-Fatihah. Lisan mereka berulang kali mengucapkan: اهدِنَا الصِّراطَ المُستَقیمَ صِراطَ الَّذینَ أَنعَمتَ عَلَیهِم “Tunjukilah kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang Engkau beri nikmat.” Tetapi ada pertanyaan yang jarang benar-benar direnungkan: siapa sebenarnya “orang-orang yang diberi nikmat” itu? Banyak orang membacanya sebagai doa

KHAMENEI.ID— إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ “Hanya kepada-Mu kami menyembah, dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan” Padahal kalimat itu bukan sekadar bagian dari shalat. Ia adalah deklarasi paling radikal tentang kebebasan manusia. Sebab di dalamnya tersembunyi satu pesan besar: manusia hanya boleh tunduk sepenuhnya kepada Tuhan. Selain itu, tidak. Di zaman

KHAMENEI.ID – Setiap tahun jutaan Muslim berangkat ke Tanah Suci membawa doa, harapan, dan air mata. Namun, Imam Ali Khamenei qs mengingatkan bahwa haji bukan hanya perjalanan spiritual. Ada dimensi lain yang sering terlupakan: dimensi sikap, salah satunya adalah Bara’ah—haji yang menegaskan pembebasan diri dari kezaliman. Sejak awal Revolusi Islam,

KHAMENEI.ID — Ada satu konsep dalam Islam yang kerap dipersempit maknanya hanya menjadi nasihat personal atau teguran moral sehari-hari. Padahal, dalam salah satu ceramahnya, Imam Ali Khamenei menegaskan bahwa amar makruf nahi mungkar sesungguhnya adalah fondasi seluruh gerakan sosial dalam Islam. Ia bukan sekadar etika individual, melainkan kerangka besar yang

KHAMENEI.ID — Di tengah perdebatan global tentang identitas, agama, dan politik, ada satu istilah yang semakin sering muncul: Islamofobia. Sebagian melihatnya sebagai fenomena sosial, sebagian lain sebagai propaganda politik. Dalam salah satu ceramahnya, Imam Ali Khamenei qs memandang isu ini dari sudut yang berbeda: Islamofobia bukan sekadar kebencian terhadap Islam,