Aqidah

Imam Ali Khamenei: Jangan Sampai Seluruh Hidup Dihabiskan untuk Sesuatu yang Akan Ditinggalkan

KHAMENEI.ID – Manusia sering kali sibuk mempersiapkan masa depan, tetapi lupa memikirkan untuk apa sebenarnya masa depan itu dijalani. Kita hidup dalam masyarakat yang sangat menghargai pencapaian. Pendidikan dinilai dari peluang pekerjaan yang dihasilkan. Pekerjaan diukur dari besarnya penghasilan. Kesuksesan sering kali ditentukan oleh kepemilikan, jabatan, dan kemampuan menikmati kehidupan.

Kekuatan Militer dan Keamanan Nasional: Mengapa Benteng Sebuah Bangsa Bukan Selalu Tentang Perang

KHAMENEI.ID– Ada ironi yang sering muncul dalam percakapan publik modern. Ketika sebuah negara memperkuat angkatan bersenjatanya, sebagian orang segera mencurigainya sebagai tanda ambisi perang. Padahal sejarah berkali-kali menunjukkan kenyataan yang berbeda: bangsa yang kuat justru sering kali lebih mampu menjaga perdamaian dibanding bangsa yang rapuh. Keamanan adalah kebutuhan yang sering

Mencintai Ali Tidak Cukup: Mengapa Keadilan adalah Bukti Sejati Cinta kepada Imam Ali 

KHAMENEI.ID– Di banyak tempat, nama Ali bin Abi Thalib a.s disebut dengan penuh cinta. Majelis-majelis dipenuhi pujian tentang keberanian, ilmu, dan ketakwaannya. Air mata mengalir ketika kisah hidupnya dibacakan. Namun sebuah pertanyaan penting sering luput diajukan: apakah mencintai Ali a.s sudah cukup? Pertanyaan itu terasa tajam di zaman sekarang, ketika simbol

Politik sebagai Ibadah: Mengapa Kekuasaan Bukan Soal Menang dan Kalah

KHAMENEI.ID– Ada satu kesalahpahaman yang terus berulang dalam kehidupan politik modern: bahwa kekuasaan adalah tujuan. Karena itu, pemilu diperlakukan sebagai medan perang, kursi jabatan dianggap puncak pencapaian, dan kemenangan menjadi ukuran utama keberhasilan. Namun, dalam pandangan Islam, politik sesungguhnya dimulai dari titik yang berbeda. Kekuasaan bukan tujuan akhir, melainkan amanah.

Revolusi sebagai Amanah: Mengapa Semangat Perubahan Tidak Boleh Dimiliki Segelintir Orang

KHAMENEI.ID–  Ada satu kesalahan yang kerap berulang dalam sejarah: ketika sebuah gerakan besar berhasil mengubah nasib bangsa, selalu muncul kelompok yang merasa paling berhak atas warisan perubahan itu. Mereka menganggap diri sebagai pemilik rumah, sementara generasi berikutnya hanya tamu yang menumpang. Padahal, justru di titik itulah banyak revolusi kehilangan ruhnya.

Ali bin Abi Thalib as: Titik Temu yang Terlupakan dalam Persatuan Umat Islam

KHAMENEI.ID – Di tengah dunia Islam yang sering dipenuhi perdebatan identitas, perbedaan mazhab, dan pertarungan klaim kebenaran, ada satu pertanyaan yang jarang diajukan: adakah sosok yang benar-benar dicintai dan dihormati oleh hampir seluruh umat Islam? Jawabannya mungkin sederhana, tetapi dampaknya sangat besar. Sosok itu adalah Ali bin Abi Thalib a.s.

Mengapa Cinta kepada Ahlul Bait Harus Terus Dihidupkan? Makna Mawaddah, Asyura, dan Kekuatan Ikatan Emosional dalam Islam

KHAMENEI.ID – Di tengah dunia modern yang semakin rasional dan serba cepat, ada satu pertanyaan yang sesekali muncul: mengapa umat Islam, khususnya para pecinta Ahlulbayt, terus mengenang tragedi Karbala? Mengapa majelis-majelis duka, lantunan syair, tangisan, dan peringatan Asyura tetap dipelihara dari generasi ke generasi? Sebagian orang memandangnya sebagai tradisi emosional

Mubahalah dan Karbala: Ketika Kebenaran Menuntut Pengorbanan Orang-Orang Tercinta

KHAMENEI.IR – Ada banyak peristiwa besar dalam sejarah Islam yang berbicara tentang keberanian. Namun hanya sedikit yang berbicara tentang keberanian dengan harga yang begitu mahal: membawa orang-orang yang paling dicintai ke tengah medan pembuktian kebenaran. Di sinilah letak keistimewaan peristiwa Mubahalah. Dalam pandangan Imam Ali Khamenei, Mubahalah bukan sekadar debat

Kemuliaan yang Terlupakan: Mengapa Penjaga Al-Qur’an dan Penghidup Malam Adalah Elite Sejati dalam Islam?

KHAMENEI.ID– Di zaman ketika ukuran keberhasilan sering dihitung dari jabatan, kekayaan, jumlah pengikut, atau seberapa sering nama seseorang muncul di ruang publik, ada satu pertanyaan yang jarang diajukan: siapa sebenarnya orang-orang mulia di mata Tuhan? Masyarakat modern memiliki definisi sendiri tentang kehormatan. Mereka yang duduk di kursi kekuasaan dianggap penting.