Aqidah

Terlena oleh Pujian, Lupa Mengadili Diri Sendiri

KHAMENEI.ID – Ada orang yang semakin dipuji semakin sulit melihat kekurangannya sendiri. Ia mengira sanjungan sebagai bukti kebaikan, keselamatan sebagai tanda bahwa dirinya tidak bersalah, dan kelimpahan nikmat sebagai pengakuan bahwa hidupnya berada di jalan yang benar. Tanpa disadari, ia sedang membangun keyakinan tentang dirinya dari hal-hal yang justru belum tentu

Al-Qur’an sebagai “Zikir” bagi Kelalaian Umat Manusia Modern

KHAMENEI.ID – Di zaman ketika manusia tak pernah berhenti menatap layar, berpindah dari satu informasi ke informasi lain, ada satu penyakit batin yang justru semakin tumbuh diam-diam: lupa. Bukan lupa terhadap jadwal atau pekerjaan, melainkan lupa terhadap makna hidup, lupa terhadap Allah swt, bahkan lupa terhadap dirinya sendiri. Dalam salah

Persatuan Dunia Islam dan Ketakutan Amerika: Pandangan Imam Ali Khamenei tentang Politik Perpecahan

KHAMENEI.ID – Siapa sebenarnya yang takut pada persatuan umat Islam? Pertanyaan itu menjadi pusat perhatian dalam kerangka pemikiran Imam Ali Khamenei qs yang membahas hubungan antara persatuan dunia Islam dan dominasi kekuatan global. Bagi beliau, musuh utama persatuan Muslim bukanlah perbedaan mazhab atau batas negara, melainkan kekuatan-kekuatan yang selama ini diuntungkan

Menjadi Syiah Tidak Cukup dengan Cinta Sebab di Hadapan Tuhan, Tidak Ada “Orang Dalam” 

KHAMENEI.ID— Ada satu jenis keyakinan yang terasa menenangkan sekaligus berbahaya: merasa aman hanya karena “berada di pihak yang benar”. Dalam kehidupan beragama, perasaan itu sering muncul dalam bentuk yang halus, merasa cukup mencintai keluarga Nabi, cukup mengaku pengikut Ahlul Bait, lalu mengira dosa-dosa akan gugur begitu saja karena identitas spiritual

Ketika Dunia Takut Mati, Imam Ali Menyambutnya sebagai Keberhasilan 

KHAMENEI.ID— Ada sesuatu yang ganjil dalam cara manusia modern memandang kematian. Kita hidup di zaman yang memuja keselamatan, kenyamanan, dan umur panjang, tetapi diam-diam kehilangan pemahaman tentang makna hidup itu sendiri. Orang takut mati, bukan hanya karena kehilangan dunia, tetapi karena sering kali hidup mereka sendiri terasa belum benar-benar bermakna.

Mengapa Manusia Merindukan Keadilan yang Tak Pernah Datang 

KHAMENEI.ID— Dunia modern terus berbicara tentang kemajuan, tetapi diam-diam gagal menjawab satu pertanyaan paling tua dalam sejarah manusia: mengapa keadilan selalu terasa begitu jauh? Teknologi berkembang luar biasa, gedung-gedung menjulang, kecerdasan buatan semakin canggih, tetapi manusia tetap hidup di tengah jurang ketimpangan. Sebagian kecil orang menguasai hampir seluruh kekayaan dunia,

Satu Malam Kesadaran yang Jujur Kadang Lebih Kuat Daripada Seribu Tahun Tanpa Arah

KHAMENEI.ID— Ada sesuatu yang ironis dalam kehidupan modern: manusia semakin pandai menghitung waktu, tetapi semakin gagal menghargainya. Kita menciptakan jam digital, kalender elektronik, aplikasi produktivitas, bahkan kecerdasan buatan untuk menghemat menit demi menit kehidupan. Namun di tengah semua itu, manusia justru makin merasa hidupnya kosong, terburu-buru, dan kehilangan makna. Waktu

Bangsa yang Besar Tidak Lahir dari Kenyamanan, tetapi dari Pengorbanan

KHAMENEI.ID—Setiap hari jutaan Muslim membaca Surah Al-Fatihah. Lisan mereka berulang kali mengucapkan: اهدِنَا الصِّراطَ المُستَقیمَ  صِراطَ الَّذینَ أَنعَمتَ عَلَیهِم “Tunjukilah kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang Engkau beri nikmat.” Tetapi ada pertanyaan yang jarang benar-benar direnungkan: siapa sebenarnya “orang-orang yang diberi nikmat” itu? Banyak orang membacanya sebagai doa

Manusia Modern Merasa Bebas, Padahal Sedang Menyembah Banyak “Tuhan” Kecil

KHAMENEI.ID— إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ “Hanya kepada-Mu kami menyembah, dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan” Padahal kalimat itu bukan sekadar bagian dari shalat. Ia adalah deklarasi paling radikal tentang kebebasan manusia. Sebab di dalamnya tersembunyi satu pesan besar: manusia hanya boleh tunduk sepenuhnya kepada Tuhan. Selain itu, tidak. Di zaman