

KHAMENEI.ID – Ada orang yang semakin dipuji semakin sulit melihat kekurangannya sendiri. Ia mengira sanjungan sebagai bukti kebaikan, keselamatan sebagai tanda bahwa dirinya tidak bersalah, dan kelimpahan nikmat sebagai pengakuan bahwa hidupnya berada di jalan yang benar. Tanpa disadari, ia sedang membangun keyakinan tentang dirinya dari hal-hal yang justru belum tentu

عَنِ المُفَضَّلِ بنِ عُمَرَ قالَ سَمِعتُ اَبا عَبدِ اللهِ جَعفَرَ بنَ مُحَمَّدٍ عَلَیهِمَا السَّلام یَقولُ: لا یَکمُلُ ایمانُ العَبدِ حَتّى یَکونَ فیهِ خِصالٌ اَربَعٌ: یُحسِنُ خُلُقَهُ وَ تَسخُو نَفسُهُ وَ یُمسِکُ الفَضلَ مِن قَولِهِ وَ یُخرِجُ الفَضلَ مِن مالِه “Mufadhdhal bin Umar berkata: Aku mendengar Abu Abdillah Ja‘far bin Muhammad

KHAMENEI.ID— Ada satu jenis kelelahan yang hari ini jarang disadari manusia modern: bukan lelah tubuh, melainkan lelah batin. Kita hidup di zaman yang serba cepat, tetapi sering mengambil keputusan dalam keadaan pikiran sempit, hati kusut, dan emosi yang tidak selesai. Kita ingin segala sesuatu segera terjadi, segera berhasil, segera selesai.

KHAMENEI.ID— Ada masa ketika sebuah bangsa tidak diuji oleh perang besar, melainkan oleh kelelahan rakyatnya sendiri. Harga kebutuhan naik, ketidakpastian ekonomi merambat ke rumah-rumah, rasa curiga tumbuh di ruang politik, dan masyarakat perlahan kehilangan keyakinan bahwa masa depan masih bisa diperjuangkan. Dalam situasi seperti itu, ancaman terbesar sebenarnya bukan kemiskinan atau

KHAMENEI.ID— Ada satu ironi yang diam-diam tumbuh dalam kehidupan modern: manusia semakin sibuk menjalankan ibadah, tetapi semakin sulit merasakan kehadiran Tuhan. Shalat tetap ditegakkan lima waktu, bacaan tetap dilantunkan, gerakan tetap sempurna, tetapi hati sering kali berjalan ke mana-mana. Tubuh berdiri menghadap kiblat, sementara pikiran sibuk memikirkan pekerjaan, tagihan, relasi, atau

KHAMENEI.ID— Ada satu jenis kelelahan yang jarang dibicarakan orang modern: lelah berharap kepada manusia. Kita hidup di zaman ketika hampir semua urusan terasa bergantung pada “orang dalam”, relasi, koneksi, rekomendasi, dan kuasa sosial. Orang mencari pekerjaan lewat kedekatan, mencari jabatan lewat lobi, bahkan mencari ketenangan lewat pengakuan orang lain. Di

Ada momen dalam sejarah ketika sebuah peradaban menoleh ke belakang, lalu tiba-tiba menyadari bahwa ia sebenarnya berdiri di atas harta karun yang selama ini terabaikan. Dalam salah satu ceramahnya, Imam Ali Khamenei qs menggambarkan momen itu sedang terjadi di dunia Islam hari ini. Para intelektual, generasi muda, dan masyarakat luas—katanya—mulai

Ada masa ketika senyum terasa lebih berbahaya daripada ancaman. Ia datang tanpa dentuman, tanpa suara keras, hanya sebuah bisikan yang menenangkan. Dalam salah satu ceramahnya, Imam Ali Khamenei qs mengingatkan bahwa sejarah berkali-kali memperlihatkan bagaimana bangsa atau individu justru tumbang bukan karena serangan langsung, melainkan karena tertidur oleh rasa aman

Ada satu anggapan yang kerap terdengar setiap kali agama bersentuhan dengan politik: bukankah lebih baik lembaga keagamaan tetap netral, menjauh dari konflik, dan fokus pada urusan spiritual? Bukankah dengan begitu wibawa mereka akan lebih terjaga? Dalam sejumlah ceramahnya, Imam Ali Khamenei menyebut gagasan ini sebagai sebuah kekeliruan logika—sebuah ilusi yang

Ada satu pertanyaan yang kerap muncul setiap kali bangsa menghadapi tekanan besar: apakah harapan masih rasional ketika semua tanda di permukaan tampak suram? Dalam sejumlah pidatonya, Imam Ali Khamenei qs mengajak pendengarnya melihat satu faktor yang sering dianggap terlalu sederhana—bahkan naif—namun justru menentukan arah sejarah: kepercayaan pada janji Tuhan. Bagi

KHAMENEI.ID— Syarah Hadits Oleh Ayatullah Sayyid Ali Khamenei qs pada Awal Pelajaran Fikih Tingkat Tinggi tentang Tugas Orang-Orang Kaya, 10 Maret 2019 Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, dan salawat serta salam atas junjungan kita Muhammad saw dan keluarga beliau