

KHAMENEI.ID – Manusia sering kali sibuk mempersiapkan masa depan, tetapi lupa memikirkan untuk apa sebenarnya masa depan itu dijalani. Kita hidup dalam masyarakat yang sangat menghargai pencapaian. Pendidikan dinilai dari peluang pekerjaan yang dihasilkan. Pekerjaan diukur dari besarnya penghasilan. Kesuksesan sering kali ditentukan oleh kepemilikan, jabatan, dan kemampuan menikmati kehidupan.

KHAMENEI.ID– Ada godaan yang selalu berulang dalam kehidupan manusia: keinginan untuk berada di posisi yang lebih tinggi. Sebagian orang mengejarnya demi kehormatan, sebagian lagi karena merasa mampu membawa perubahan. Namun, tidak semua kursi yang kosong harus segera diisi oleh siapa pun yang menginginkannya. Dalam pandangan Islam, jabatan bukan hadiah, melainkan amanah

KHAMENEI.ID– Ada kerinduan yang lahir bukan dari perjumpaan, melainkan dari keyakinan. Anehnya, justru kerinduan seperti itulah yang sering kali paling murni. Kita mencintai seseorang yang tak pernah kita tatap wajahnya, mengikuti jejaknya tanpa pernah mendengar suaranya secara langsung, dan meneladani kehidupannya hanya melalui kisah-kisah yang diwariskan lintas abad. Mungkin di situlah

KHAMENEI.ID– Ada banyak orang mengaku dekat dengan rakyat. Mereka berbicara atas nama masyarakat, tampil sederhana di depan kamera, atau sesekali turun ke jalan untuk menyapa orang-orang kecil. Namun, kedekatan dengan rakyat bukanlah perkara citra. Ia adalah cara hidup. Bukan sesuatu yang dipentaskan, melainkan kebiasaan yang lahir dari hati. Di tengah budaya

KHAMENEI.ID– Ada percakapan yang mengubah sejarah. Bukan karena didengar banyak orang, melainkan karena hanya disampaikan kepada satu hati yang paling siap memikulnya. Di penghujung kehidupan Nabi Muhammad saw, ketika tubuh beliau melemah dan waktu perpisahan semakin dekat, berlangsung sebuah dialog yang nyaris tanpa saksi. Hanya Fatimah Zahra a.s yang mendengarnya. Dari

KHAMENEI.ID – Tafsir Imam Ali Khamenei tentang ayat Shiratalladzina An’amta ‘alaihim teladan yang harus diikuti di jalan lurus Setelah seorang muslim memohon, اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ—”Tunjukilah kami jalan yang lurus”—Al-Qur’an langsung menjelaskan jalan seperti apa yang dimaksud. Jalan itu bukan konsep yang abstrak dan tidak berjejak. Jalan itu adalah jalan yang

KHAMENEI.ID– Setiap pagi, jutaan orang membuka mata pada waktu yang hampir bersamaan. Alarm berbunyi, layar ponsel menyala, kesibukan segera dimulai. Namun, dalam pandangan Islam, bangun dari tidur ternyata bukan sekadar peristiwa biologis. Fajar adalah sebuah persimpangan. Pada saat itulah seseorang sedang menentukan: apakah hari itu menjadi keuntungan, kerugian, atau sekadar berlalu

KHAMENEI.ID– Ada ketakutan yang diam-diam menghantui banyak orang pada zaman ini: takut ditinggalkan. Takut kehilangan relasi, dukungan, pengaruh, pekerjaan, bahkan pengakuan. Karena itulah, tidak sedikit orang rela mengorbankan prinsip hanya agar tetap diterima oleh lingkungan. Padahal, dalam pandangan Islam, kekuatan manusia justru lahir ketika sandaran utamanya bukan manusia, melainkan Allah. Pelajaran

KHAMENEI.ID– Ada kalanya kekuatan tidak datang dalam bentuk senjata, jabatan, atau kekayaan. Ia justru lahir dari hati yang menolak tunduk kepada kezaliman. Sejarah menunjukkan, banyak bangsa runtuh bukan karena kalah berperang, melainkan karena lebih dahulu kehilangan keberanian untuk berkata, “Tidak.” Sebaliknya, mereka yang mampu mempertahankan martabat sering kali memulainya dari sesuatu

KHAMENEI.ID – Tafsir Imam Ali Khamenei qs terhadap ayat Ihdinash Shirathal Mustaqim; mengapa manusia terus tersesat dalam menjawab persoalan hidup Setiap hari, setidaknya tujuh belas kali dalam salat wajib, seorang muslim mengucapkan doa yang sama: اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ “Tunjukilah kami jalan yang lurus.” (QS. Al-Fatihah [1]: 6) Karena begitu sering

KHAMENEI.ID – Di berbagai penjuru dunia Islam, konflik seolah tidak pernah benar-benar berhenti. Di satu tempat, umat Islam menjadi korban perang dan pendudukan. Di tempat lain, mereka justru saling memerangi atas nama mazhab. Dari Myanmar hingga Nigeria, dari Irak hingga Suriah, darah kaum Muslim kerap tertumpah, bukan hanya karena agresi









