

KHAMENEI.ID – Ada orang yang semakin dipuji semakin sulit melihat kekurangannya sendiri. Ia mengira sanjungan sebagai bukti kebaikan, keselamatan sebagai tanda bahwa dirinya tidak bersalah, dan kelimpahan nikmat sebagai pengakuan bahwa hidupnya berada di jalan yang benar. Tanpa disadari, ia sedang membangun keyakinan tentang dirinya dari hal-hal yang justru belum tentu

KHAMENEI.ID– Ada satu pertanyaan yang layak diajukan kepada diri sendiri: mengapa seseorang yang rajin shalat masih bisa kehilangan arah dalam hidup? Pertanyaan itu bukan untuk meragukan shalat, melainkan untuk menguji kualitas hubungan kita dengannya. Sebab, dalam ajaran Islam, shalat bukan sekadar rutinitas yang mengisi jadwal harian. Ia adalah tiang agama serta

KHAMENEI.ID– Ada dua hal yang sering dianggap biasa sampai suatu hari lenyap dari kehidupan: kesehatan dan keamanan. Selama tubuh masih kuat, orang jarang memikirkan arti sehat. Selama jalanan tetap aman, anak-anak dapat berangkat ke sekolah tanpa rasa takut, dan keluarga bisa pulang larut malam dengan tenang, sedikit sekali yang benar-benar menyadari

KHAMENEI.ID– Ada kalanya sebuah kalimat yang sering diucapkan justru kehilangan daya gugahnya karena terlalu akrab di telinga. Kita mengulangnya dalam doa, mengucapkannya pada hari raya, bahkan mungkin menghafalnya sejak kecil, tetapi jarang berhenti untuk bertanya: apa sebenarnya makna kalimat itu bagi hidup kita? Salah satunya adalah doa yang lazim dibaca pada

KHAMENEI.ID– Ada godaan yang sering muncul ketika berbicara tentang Imam Ali bin Abi Thalib a.s. Kita mengaguminya sedemikian tinggi hingga akhirnya merasa mustahil meneladaninya. Gunung itu terlalu tinggi, jurang menuju puncaknya terlalu curam. Maka, tanpa sadar, kekaguman berubah menjadi alasan untuk berhenti melangkah. Padahal, Imam Ali a.s sendiri tidak pernah meminta

KHAMENEI.ID– Ada pertanyaan yang sejak lama menggugah banyak orang: mengapa peristiwa Ghadir Khum menempati posisi yang begitu menentukan dalam sejarah Islam? Bukankah selama lebih dari dua dekade Nabi Muhammad saw telah menyampaikan wahyu, membangun masyarakat, memimpin peperangan, menegakkan keadilan, dan mengubah wajah peradaban? Mengapa, menjelang akhir perjalanan kenabian, turun sebuah perintah

KHAMENEI.ID – Tidak semua gerakan lahir dari kekuatan senjata. Sebagian justru bertahan karena memiliki keyakinan yang lebih kuat daripada rasa takut. Itulah yang membuat sebuah gerakan mampu melampaui batas negara, pergantian generasi, bahkan kehilangan para pemimpinnya. Dalam pandangan Imam Ali Khamenei qs, itulah hakikat muqawamah atau perlawanan—sebuah konsep yang selama

KHAMENEI.ID – Selama berabad-abad, banyak orang menganggap agama cukup tinggal di ruang ibadah. Masjid mengurus salat, ulama mengurus doa, sementara negara berjalan dengan logikanya sendiri. Dalam pandangan seperti ini, Islam hanya dipahami sebagai hubungan pribadi antara manusia dan Tuhan. Ia menghibur hati, tetapi tidak mengatur masyarakat. Ia mengajarkan akhlak, tetapi

KHAMENEI.ID – Sejarah sering kali dikenang melalui nama-nama raja, presiden, atau panglima perang. Namun, jika menelusuri perjalanan bangsa-bangsa Muslim—khususnya Iran dalam satu setengah abad terakhir—akan tampak pola yang berulang. Di balik setiap gerakan besar yang berhasil menggerakkan rakyat, hampir selalu berdiri seorang ulama yang bukan hanya menguasai ilmu agama, tetapi

KHAMENEI.ID– Ada anggapan yang semakin menguat di tengah masyarakat modern: jangan mencampuri urusan orang lain. Biarkan setiap orang memilih jalannya sendiri, mengambil keputusannya sendiri, lalu menanggung akibatnya sendiri. Sekilas terdengar bijaksana. Namun dalam kehidupan yang dibangun di atas persaudaraan, sikap semacam itu justru menyisakan satu pertanyaan penting: jika kita melihat seseorang

KHAMENEI.ID– Ada anggapan yang diam-diam mengakar dalam hidup banyak orang: kita hanya akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang telah kita lakukan. Padahal, dalam kehidupan, ada sesuatu yang sering kali lebih berat daripada tindakan, yaitu kesempatan yang sengaja dibiarkan berlalu. Kata-kata yang seharusnya diucapkan tetapi ditahan. Sikap yang seharusnya diambil tetapi dihindari.