

KHAMENEI.ID – Ada orang yang semakin dipuji semakin sulit melihat kekurangannya sendiri. Ia mengira sanjungan sebagai bukti kebaikan, keselamatan sebagai tanda bahwa dirinya tidak bersalah, dan kelimpahan nikmat sebagai pengakuan bahwa hidupnya berada di jalan yang benar. Tanpa disadari, ia sedang membangun keyakinan tentang dirinya dari hal-hal yang justru belum tentu

KHAMENEI.ID– Ada satu kebiasaan lama yang masih bertahan hingga hari ini: menganggap usia sebagai ukuran utama kelayakan. Semakin tua seseorang, semakin besar haknya untuk memimpin. Sebaliknya, semakin muda seseorang, semakin kuat keraguan yang diarahkan kepadanya. Seolah-olah tahun yang lebih banyak otomatis menghadirkan kebijaksanaan yang lebih dalam. Namun sejarah Islam menyimpan

KHAMENEI.ID– Ada satu kesalahpahaman yang sering diwariskan dari generasi ke generasi tentang takwa. Ketika kata itu disebut, yang segera muncul dalam benak banyak orang adalah ibadah pribadi: shalat yang khusyuk, puasa yang sempurna, zikir yang panjang, atau kemampuan menjauhi dosa-dosa individu. Semua itu memang bagian dari takwa. Namun, apakah takwa

KHAMENEI.ID– Di tengah arus informasi yang kian deras, pengetahuan tidak lagi berdiri sendiri sebagai penjamin kebenaran. Ia justru bisa menjadi pintu masuk bagi kekeliruan, jika tidak disertai satu hal yang kerap diabaikan: kesadaran terhadap zaman. Sebuah gagasan lama yang kini terasa semakin relevan, bahwa menjadi berilmu tanpa memahami konteks zaman

KHAMENEI.ID– Di banyak ruang kerja, di balik meja-meja rapat dan laporan kinerja, manusia sering diam-diam terjebak pada satu hal yang tampak sederhana tetapi menentukan arah seluruh hidup: kepada siapa sebenarnya ia menaruh harapan. Apakah kepada Tuhan, atau kepada penilaian manusia yang selalu berubah-ubah? Di titik inilah sebuah pesan lama kembali

KHAMENEI.ID– Di banyak momen sejarah sebuah bangsa, ada satu titik ketika kata “diam” tidak lagi netral. Ia berubah menjadi tanda tanya yang menggantung di atas kepala publik: mengapa kita berhenti bergerak, padahal zaman terus melaju? Di titik seperti inilah gagasan tentang kerja dan keterlibatan menjadi lebih dari sekadar anjuran moral;

KHAMENEI.ID– Di dalam sejarah panjang pemikiran Islam, ada satu cabang yang kerap bekerja diam-diam, namun sesungguhnya menentukan arah kehidupan publik: fikih politik. Ia tidak lahir sebagai teori yang rapi di atas meja akademik, melainkan tumbuh di tengah riwayat, percakapan, dan praktik sosial yang hidup. Dalam tradisi Syiah, akar fikih politik

KHAMENEI.ID– Di zaman yang serba terhubung seperti sekarang, manusia sering merasa dirinya semakin berkuasa. Teknologi membuat jarak lenyap, informasi bergerak dalam hitungan detik, dan hampir setiap persoalan tampak bisa diselesaikan dengan kecerdasan serta kemampuan manusia. Namun ada satu hal yang tetap sulit dijelaskan oleh rumus apa pun: mengapa sekumpulan orang

KHAMENEI.ID– Ada satu anggapan yang begitu populer tentang masa muda: bahwa ia adalah masa untuk mencoba segalanya, menikmati segala kesenangan, dan memuaskan setiap hasrat yang muncul. Dalam pandangan seperti itu, semakin banyak kesenangan yang diraih, semakin dianggap berhasil seseorang menikmati masa mudanya. Namun, benarkah demikian? Barangkali kita perlu berhenti sejenak

KHAMENEI.ID – Dua hari setelah tragedi Karbala, padang pasir masih menyimpan jejak darah para syuhada. Tubuh-tubuh mulia tergeletak tanpa kepala. Keluarga Rasulullah saw kehilangan pelindung mereka. Anak-anak menjadi yatim. Para perempuan menjadi tawanan. Di tengah suasana yang bagi manusia biasa hanya menyisakan kesedihan dan kehancuran, muncul seorang perempuan yang mengubah

KHAMENEI.ID – Sejarah menunjukkan bahwa menggulingkan sebuah rezim sering kali lebih mudah daripada menjaga ruh perubahan tetap hidup. Banyak bangsa berhasil melakukan revolusi. Mereka turun ke jalan, menumbangkan penguasa lama, mengubah konstitusi, bahkan membangun sistem politik baru. Namun setelah beberapa tahun berlalu, mereka mendapati sesuatu yang ironis: wajah-wajah mungkin berubah,