

KHAMENEI.ID – Ada orang yang semakin dipuji semakin sulit melihat kekurangannya sendiri. Ia mengira sanjungan sebagai bukti kebaikan, keselamatan sebagai tanda bahwa dirinya tidak bersalah, dan kelimpahan nikmat sebagai pengakuan bahwa hidupnya berada di jalan yang benar. Tanpa disadari, ia sedang membangun keyakinan tentang dirinya dari hal-hal yang justru belum tentu

KHAMENEI.ID– Di dunia politik, kecerdikan sering kali diukur dari kemampuan seseorang memenangkan permainan. Semakin lihai menyusun strategi, semakin piawai memanipulasi opini, semakin cakap menyembunyikan niat di balik kata-kata, maka semakin dianggap berhasil. Dalam logika seperti itu, kejujuran sering dipandang sebagai kelemahan. Etika dianggap beban. Integritas dinilai menghambat langkah. Namun sejarah

KHAMENEI.ID– Di tengah derasnya arus informasi, pertarungan kepentingan, dan perubahan sosial yang berlangsung begitu cepat, banyak orang bertanya: apa yang membuat sebuah gerakan mampu bertahan dari berbagai tekanan? Mengapa ada perjuangan yang tetap kokoh meski dihantam fitnah, propaganda, dan berbagai upaya pelemahan? Sebagian menjawab karena strategi, sebagian lagi karena kekuatan

KHAMENEI.ID– Di masa yang penuh kebingungan, banyak orang memilih diam. Mereka merasa itulah pilihan paling aman. Tidak berpihak, tidak berkomentar, tidak ikut dalam perdebatan. Sekilas sikap itu tampak bijaksana. Namun sejarah menunjukkan bahwa dalam situasi tertentu, diam bukanlah bentuk kebijaksanaan, melainkan kontribusi terhadap kekacauan itu sendiri. Fenomena ini bukan hanya

KHAMENEI.ID– Di banyak ruang keagamaan hari ini, Al-Qur’an sering hadir sebagai bacaan yang indah didengar, materi yang menarik dipelajari, atau hafalan yang membanggakan untuk ditampilkan. Rak-rak buku dipenuhi tafsir, kajian daring menjamur, dan diskusi tentang ayat-ayat suci berlangsung hampir setiap hari. Namun, di tengah melimpahnya pengetahuan itu, muncul pertanyaan yang

KHAMENEI.ID– Di tengah jutaan manusia yang bergerak mengelilingi Ka’bah, perbedaan sebenarnya tampak begitu kecil. Bahasa berbeda, warna kulit berbeda, mazhab berbeda, bahkan tradisi keagamaan yang dibawa dari kampung halaman pun beragam. Namun ketika azan berkumandang di Masjidil Haram, seluruh perbedaan itu seharusnya melebur dalam satu gerakan yang sama: berdiri, rukuk,

KHAMENEI.ID– Ada masa ketika sebuah bangsa tidak diserang dengan tank, peluru, atau meriam. Yang diserang adalah pikirannya. Yang dilemahkan bukan tentaranya, melainkan kepercayaannya kepada sesama. Yang dihancurkan bukan gedung-gedungnya, tetapi keyakinannya terhadap masa depan. Di tengah dunia yang semakin dipenuhi arus informasi, propaganda, dan pertarungan narasi, ancaman terbesar sering kali

Banyak pasangan muda gagal melangkah ke pelaminan hanya karena terhalang oleh tuntutan mahar selangit dan seserahan mewah. Padahal, menurut Pemimpin Besar Revolusi Islam, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, mahar dan seserahan bukanlah sumber kebahagiaan, bahkan bisa menjadi beban yang menghalangi pernikahan. Justru kesederhanaan dan peneladanan kepada keluarga Nabi Muhammad Saw lah

Dalam berbagai nasihatnya kepada pemuda-pemudi yang akad pernikahannya dilakukan oleh Beliau, Pemimpin Besar Revolusi Islam, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, menekankan bahwa poros utama dari sebuah rumah tangga bukanlah harta, kecantikan, atau kemewahan, melainkan cinta. Cinta (mawaddah) yang Allah Swt tanamkan dalam hati pasangan suami-istri adalah perekat yang menjaga keutuhan keluarga

KHAMENEI.ID– Ada peristiwa-peristiwa yang tidak hanya dikenang karena terjadi, tetapi karena dampaknya terus bergema melampaui zaman. Ghadir Khum adalah salah satunya. Di tengah hamparan padang pasir yang panas, dalam perjalanan pulang dari haji terakhir Nabi Muhammad saw, sebuah pesan disampaikan yang kemudian menjadi salah satu titik paling penting dalam sejarah

KHAMENEI.ID– Sejarah sering kali memperdebatkan siapa yang paling berhak memimpin setelah wafatnya Nabi Muhammad saw. Perdebatan itu melahirkan berbagai pandangan, tafsir, bahkan perpecahan yang membentuk wajah dunia Islam hingga hari ini. Namun di balik seluruh perdebatan tersebut, ada satu pertanyaan yang sebenarnya sederhana: jika kepemimpinan harus diberikan kepada orang yang









