

KHAMENEI.ID – Sebuah masyarakat tidak selalu runtuh karena serangan dari luar. Ada kalanya kehancuran justru bermula dari sesuatu yang tumbuh diam-diam di dalam dirinya: keputusan yang diambil tanpa pertimbangan, pendirian yang dipertahankan meski terbukti keliru, kekaguman berlebihan terhadap diri sendiri, dan kebiasaan menunda pekerjaan sampai kesempatan berlalu. Tak ada ledakan besar

KHAMENEI.ID– Sejarah tidak selalu berubah karena orang jahat merencanakannya dengan cermat. Kadang-kadang sejarah berubah karena orang baik terlalu lama diam. Sebuah masyarakat bisa kehilangan arah bukan hanya karena kekuatan kebatilan terlalu besar, melainkan karena mereka yang mengetahui kebenaran tidak bergerak ketika kebenaran membutuhkan keberanian. Di situlah makna “jihad pemikiran” menjadi penting.

KHAMENEI.ID– Ada negeri yang miskin karena tak memiliki sumber daya. Ada pula negeri yang sebenarnya kaya, tetapi gagal mengenali kekayaannya sendiri. Di antara keduanya, persoalannya bukan semata-mata jumlah minyak, gas, tambang, atau modal yang tersedia. Persoalan yang lebih dalam adalah kemampuan sebuah bangsa melihat apa yang berada di hadapannya, lalu mengubahnya

KHAMENEI.ID– Ada sebuah pertanyaan yang diam-diam menentukan arah sebuah peradaban: di mana agama harus ditempatkan ketika manusia berbicara tentang kemajuan? Di ruang modern, pertanyaan itu sering dianggap telah selesai. Kemajuan dikaitkan dengan ilmu pengetahuan, teknologi, kebebasan individu, pertumbuhan ekonomi. Agama, jika masih diperlukan, cukup ditempatkan di ruang batin di masjid, gereja,

KHAMENEI.ID– Ada masa ketika sebuah bangsa tidak hanya kehilangan wilayah, tetapi juga kehilangan keyakinan bahwa dirinya masih mampu menentukan nasib sendiri. Kekuasaan asing datang bukan selalu dengan tank dan serdadu. Ia bisa hadir melalui ekonomi, politik, kebudayaan, bahkan melalui keyakinan bahwa hanya mereka yang kuat yang berhak menentukan arah dunia. Di

KHAMENEI.ID – Dalam menjelaskan ayat 23–24 Surah Al-Baqarah, Imam Ali Khamenei qs menerangkan salah satu karakter penting mukjizat Al-Qur’an: kemukjizatannya bersifat abadi. Menurut beliau, hal ini berbeda dari mukjizat para nabi terdahulu yang hadir dalam bentuk sebuah peristiwa tertentu. Tongkat Nabi Musa as berubah menjadi ular. Laut terbelah dan jalan

KHAMENEI.ID – Ayat 22 bukan semata-mata argumen untuk membuktikan adanya Pencipta, tetapi menghubungkan penciptaan dan pengaturan alam dengan konsekuensi tauhid praktis—bahwa ketaatan dan penghambaan mutlak hanya layak diberikan kepada Allah swt. Ada perbedaan antara mengetahui bahwa Tuhan itu ada dan menyadari apa konsekuensi dari keberadaan-Nya bagi kehidupan manusia. Seseorang dapat

KHAMENEI.ID– Ada sebuah pertanyaan lama yang tak pernah benar-benar selesai: apakah kemajuan manusia harus dibayar dengan meninggalkan agama? Dalam sejarah modern, pertanyaan itu kerap dijawab seolah-olah sudah final. Agama, kata mereka, boleh tinggal di ruang batin; sebagai keyakinan pribadi, doa, atau upacara, tetapi jangan dibawa terlalu jauh ke dalam kehidupan bersama.

KHAMENEI.ID– Ada jenis ketakutan yang tidak membuat seseorang berlari. Ia justru membuat seseorang tetap duduk, berbicara dengan tenang, bahkan tampak rasional. Namun diam-diam ketakutan itu mengubah cara ia melihat kenyataan. Takut kehilangan harta. Takut kehilangan jabatan. Takut dicemooh. Takut dituduh. Takut salah langkah. Takut pada suasana yang sedang berkembang. Takut pada

KHAMENEI.ID– Ada masa ketika ancaman terhadap agama tidak datang dalam bentuk larangan beribadah. Tidak ada pintu masjid yang ditutup, tidak ada kitab yang dibakar, tidak pula azan yang dilarang terdengar. Ancaman justru datang lebih halus: agama tetap ada, tetapi kehilangan daya untuk menerangi pikiran dan membentuk watak. Di situlah persoalan dakwah

KHAMENEI.ID– Ada pekerjaan yang terlalu penting untuk diseret ke dalam pertengkaran politik. Pendidikan adalah salah satunya. Sebab ketika orang-orang dewasa sibuk membelah diri berdasarkan kubu, yang dipertaruhkan bukan sekadar hubungan antarkelompok, melainkan masa depan anak-anak yang belum selesai belajar memahami dunia. Gagasan itu terasa kuat dalam pesan Ayatollah Sayyid Ali Khamenei









