Akhlak

Empat Sifat yang Perlahan Menghancurkan Sebuah Masyarakat

KHAMENEI.ID – Sebuah masyarakat tidak selalu runtuh karena serangan dari luar. Ada kalanya kehancuran justru bermula dari sesuatu yang tumbuh diam-diam di dalam dirinya: keputusan yang diambil tanpa pertimbangan, pendirian yang dipertahankan meski terbukti keliru, kekaguman berlebihan terhadap diri sendiri, dan kebiasaan menunda pekerjaan sampai kesempatan berlalu. Tak ada ledakan besar

Al-Qur’an yang Tak Lagi Menjadi Jalan Hidup

KHAMENEI.ID– Ada masa ketika Al-Qur’an hanya hadir sebagai suara. Ia dilantunkan dengan indah, terdengar dari masjid, rumah, perlombaan, atau pengeras suara menjelang subuh. Ayat-ayatnya mengalir, tajwidnya terjaga, lagunya memukau. Tetapi setelah suara itu berhenti, kehidupan berjalan seperti biasa. Al-Qur’an telah didengar, namun belum tentu direnungkan. Telah dibaca, tetapi belum tentu menjadi

Islamofobia dan Pertanyaan yang Tak Bisa Dibungkam

KHAMENEI.ID– Ada paradoks dalam cara sebuah agama diserang. Semakin keras sebuah gagasan dipukul, semakin besar kemungkinan orang bertanya mengapa ia dianggap begitu berbahaya. Larangan dapat melahirkan rasa ingin tahu. Cemoohan bisa membuka percakapan. Bahkan Islamofobia jika terus dipertontonkan secara berlebihan, dapat berubah menjadi pintu bagi orang-orang yang sebelumnya tidak pernah tertarik

Kebangkitan Islam dan Politik Perpecahan

KHAMENEI.ID– Ada masa ketika agama tidak sekadar menjadi urusan iman, melainkan menjadi tenaga yang menggerakkan masyarakat. Ia masuk ke ruang sejarah, mengguncang tatanan yang mapan, membuka kemungkinan baru, dan membuat manusia bertanya kembali: untuk siapa kekuasaan bekerja, kepada siapa kekayaan berpihak, dan ke mana peradaban hendak diarahkan? Gagasan tentang bi’tsah kebangkitan

Bila Agama Menjauh dari Kekuasaan, Siapa yang Mengisi Kekosongan?

KHAMENEI.ID– Ada godaan besar bagi lembaga keagamaan untuk merasa lebih terhormat ketika berada jauh dari politik. Tidak ikut bertengkar, tidak masuk ke dalam perdebatan kekuasaan, tidak menyentuh urusan negara. Dari kejauhan, posisi seperti itu tampak suci. Bersih dari lumpur perebutan kepentingan. Tapi justru di situlah persoalannya. Sebuah lembaga yang terus-menerus menghindari

Kekuasaan yang Tak Boleh Menjadi Tuhan

KHAMENEI.ID– Kekuasaan hampir selalu punya godaan yang sama: semakin tinggi seseorang berdiri, semakin mudah ia lupa bagaimana rasanya berada di bawah. Dari istana sampai gedung pemerintahan, dari singgasana sampai podium demokrasi, sejarah memperlihatkan bahwa kekuasaan kerap berubah menjadi sesuatu yang ingin mempertahankan dirinya sendiri. Islam menawarkan gambaran yang berbeda. Dalam gagasan

Kekuasaan yang Mulai Meniru Kemewahan yang Dilawannya

KHAMENEI.ID– Kekuasaan sering kali tidak berubah wajah ketika berganti tangan. Yang berubah hanya nama orang yang duduk di kursinya. Gedungnya tetap megah, kendaraan dinas tetap mengilap, ruang-ruang kekuasaan tetap dijaga oleh protokol. Tetapi justru di situlah sebuah pertanyaan moral menjadi penting: apakah orang yang datang untuk memperbaiki kekuasaan akhirnya hanya belajar

Musuh dari Luar, Kelemahan dari Dalam

KHAMENEI.ID– Sebuah bangsa tidak selalu kalah karena musuhnya terlalu kuat. Kadang-kadang ia melemah karena terlalu sibuk bertengkar dengan dirinya sendiri. Di tengah riuh perdebatan, energi habis untuk perkara kecil, sementara ancaman yang lebih besar bergerak perlahan di luar pagar. Gagasan itulah yang menjadi salah satu pokok penting dalam pidato Ayatollah sayyid

Kekuasaan yang Mau Mendengar Rakyat

KHAMENEI.ID– Kekuasaan sering kali tidak berubah menjadi angkuh secara tiba-tiba. Ia tumbuh perlahan, dari jarak yang makin lebar antara penguasa dan orang yang dikuasai. Mula-mula hanya sebuah ruangan yang terlalu mewah. Lalu kendaraan yang semakin jauh dari jangkauan rakyat. Setelah itu cara bicara yang berubah: pertanyaan rakyat dianggap gangguan, keluhan dianggap

Ketika Nama Islam Dipakai untuk Melawan Islam

KHAMENEI.ID– Ada masa ketika sebuah nama tidak lagi menjamin isi. Islam dapat disebut dalam pidato, dikibarkan dalam bendera, bahkan disertai simbol-simbol keagamaan, tetapi arah yang ditempuh justru menjauh dari nilai yang dibawanya. Di situlah persoalan menjadi lebih rumit: musuh sebuah agama tidak selalu datang dengan nama yang berlawanan dengan agama itu.

Al-Qur’an Bukan Hanya untuk Menenangkan Hati

KHAMENEI.ID– Ada cara yang paling mudah untuk mengecilkan makna Al-Qur’an: menjadikannya hanya sebagai kitab untuk menenangkan hati. Ia dibaca ketika malam terasa panjang, dilantunkan ketika seseorang sedang berduka, atau diletakkan di sudut rumah sebagai penanda kesalehan. Semua itu tentu bukan sesuatu yang keliru. Tetapi jika Al-Qur’an hanya ditempatkan di wilayah batin