

KHAMENEI.ID – Sebuah masyarakat tidak selalu runtuh karena serangan dari luar. Ada kalanya kehancuran justru bermula dari sesuatu yang tumbuh diam-diam di dalam dirinya: keputusan yang diambil tanpa pertimbangan, pendirian yang dipertahankan meski terbukti keliru, kekaguman berlebihan terhadap diri sendiri, dan kebiasaan menunda pekerjaan sampai kesempatan berlalu. Tak ada ledakan besar

KHAMENEI.ID– Ada sebuah pertanyaan lama yang tak pernah benar-benar selesai: apakah kemajuan manusia harus dibayar dengan meninggalkan agama? Dalam sejarah modern, pertanyaan itu kerap dijawab seolah-olah sudah final. Agama, kata mereka, boleh tinggal di ruang batin; sebagai keyakinan pribadi, doa, atau upacara, tetapi jangan dibawa terlalu jauh ke dalam kehidupan bersama.

KHAMENEI.ID– Ada jenis ketakutan yang tidak membuat seseorang berlari. Ia justru membuat seseorang tetap duduk, berbicara dengan tenang, bahkan tampak rasional. Namun diam-diam ketakutan itu mengubah cara ia melihat kenyataan. Takut kehilangan harta. Takut kehilangan jabatan. Takut dicemooh. Takut dituduh. Takut salah langkah. Takut pada suasana yang sedang berkembang. Takut pada

KHAMENEI.ID– Ada masa ketika ancaman terhadap agama tidak datang dalam bentuk larangan beribadah. Tidak ada pintu masjid yang ditutup, tidak ada kitab yang dibakar, tidak pula azan yang dilarang terdengar. Ancaman justru datang lebih halus: agama tetap ada, tetapi kehilangan daya untuk menerangi pikiran dan membentuk watak. Di situlah persoalan dakwah

KHAMENEI.ID– Ada pekerjaan yang terlalu penting untuk diseret ke dalam pertengkaran politik. Pendidikan adalah salah satunya. Sebab ketika orang-orang dewasa sibuk membelah diri berdasarkan kubu, yang dipertaruhkan bukan sekadar hubungan antarkelompok, melainkan masa depan anak-anak yang belum selesai belajar memahami dunia. Gagasan itu terasa kuat dalam pesan Ayatollah Sayyid Ali Khamenei

KHAMENEI.ID– Ada kebiasaan yang diam-diam mengendap dalam banyak ruang kehidupan: menganggap usia sebagai ukuran kebijaksanaan, jabatan sebagai tanda keunggulan, dan kedekatan sebagai alasan untuk mendapatkan kepercayaan. Seolah-olah semakin lama seseorang hidup, semakin layak ia memimpin. Seolah-olah senioritas dengan sendirinya melahirkan kemampuan. Islam menawarkan ukuran yang berbeda. Dalam pandangan itu, perubahan memang

KHAMENEI.ID– Ada masa ketika sebuah masyarakat tampak kuat dari luar, tetapi gelisah di dalam. Negara memiliki institusi, pemilu berlangsung, kekuasaan berganti, tetapi hati orang-orang tetap dipenuhi kecemasan. Di titik itulah agama tidak cukup dipahami sebagai kumpulan ajaran yang tersimpan dalam kitab. Ia dituntut hadir sebagai kekuatan yang membentuk kehidupan. Dalam pandangan

KHAMENEI.ID– Ada masa ketika agama begitu mudah dibicarakan sebagai urusan pribadi. Ia ditempatkan di ruang yang sunyi: masjid, rumah, hati manusia. Sementara kekuasaan, pemerintahan, ekonomi, dan urusan masyarakat dianggap berada di wilayah lain yang lebih “realistis”. Seolah-olah keduanya memang harus dipisahkan. Sejarah Islam justru bermula dari kegelisahan yang berbeda. KetikaRasulullah Muhammad

KHAMENEI.ID– Setiap bangsa memiliki cara sendiri untuk mengingat para pahlawannya. Ada yang mengabadikan nama mereka di jalan, mendirikan patung, menulisnya dalam buku sejarah, atau menjadikan hari kematian mereka sebagai hari peringatan. Namun ingatan yang paling kuat barangkali bukanlah yang terpahat di batu. Ia hidup dalam cerita: tentang bagaimana seseorang menjalani hari-harinya,

KHAMENEI.ID– Ada banyak cara untuk mengenang seorang pemimpin. Namanya dapat diabadikan dalam peringatan tahunan, wajahnya dipasang di dinding, kisahnya diceritakan dari mimbar ke mimbar. Tapi ada satu cara mengenang yang jauh lebih berat: mencoba hidup dengan nilai yang pernah ia perjuangkan. Di sinilah persoalan kepemimpinan Imam Ali a.s menjadi relevan. Mengenal

KHAMENEI.ID– Setiap zaman punya cara sendiri untuk memuja masa lalu. Kita menuliskan nama tokoh besar di spanduk, mencetak wajahnya di poster, menggelar seminar tentang pemikirannya, lalu merasa telah cukup dekat dengannya. Padahal ada jarak yang sering luput kita sadari: jarak antara mengagumi seorang tokoh dan meniru cara hidupnya. Pada pesan Ayatollah









