

KHAMENEI.ID – Manusia sering kali sibuk mempersiapkan masa depan, tetapi lupa memikirkan untuk apa sebenarnya masa depan itu dijalani. Kita hidup dalam masyarakat yang sangat menghargai pencapaian. Pendidikan dinilai dari peluang pekerjaan yang dihasilkan. Pekerjaan diukur dari besarnya penghasilan. Kesuksesan sering kali ditentukan oleh kepemilikan, jabatan, dan kemampuan menikmati kehidupan.

KHAMENEI.ID– Ada banyak peristiwa besar dalam sejarah Islam. Sebagian dikenang karena kemenangan, sebagian lagi karena pengorbanan. Namun ada satu peristiwa yang maknanya melampaui sekadar catatan sejarah. Ia berbicara tentang arah perjalanan sebuah umat. Peristiwa itu adalah Ghadir Khum, saat Nabi Muhammad saw memperkenalkan Imam Ali a.s sebagai penerus kepemimpinan umat. Dalam

KHAMENEI.ID– Setiap Idulfitri, jutaan Muslim mengangkat tangan dalam doa yang sama. Di antara lantunan takbir dan suasana kemenangan setelah sebulan berpuasa, ada satu doa yang sering diucapkan tanpa benar-benar direnungkan maknanya. Padahal, di dalamnya tersimpan pesan yang melampaui perayaan, melampaui kebahagiaan pribadi, bahkan melampaui batas sebuah hari raya. Doa itu berbicara

KHAMENEI.ID – Tafsir Imam Ali Khamenei tentang hakikat hubungan manusia dengan Allah swt dalam Surah Al-Fatihah, ayat 5 Ketika seorang muslim mengucapkan إِيَّاكَ نَعْبُدُ—”Hanya kepada Engkaulah kami menyembah” (QS. Al-Fatihah [1]: 5)—ia sedang mendefinisikan kembali siapa dirinya di hadapan Tuhan. Bukan sebagai anak, bukan sebagai mitra, bukan pula sebagai bagian

KHAMENEI.ID – Tafsir Imam Ali Khamenei tentang Iyyaka Na’budu Wa Iyyaka Nasta’in, makna penghambaan yang justru membebaskan manusia Di zaman yang menjadikan kebebasan sebagai ukuran tertinggi, kata hamba terdengar seperti istilah yang usang. Tidak ada orang yang ingin disebut budak. Manusia modern ingin merdeka, menentukan jalan hidupnya sendiri, dan bebas

KHAMENEI.ID – Bagaimana iman kepada “Malik Yaumiddin” membebaskan manusia dari kesombongan dan ilusi kekuasaan Apa yang benar-benar kita miliki dalam hidup ini? Rumah yang kita tempati? Harta yang kita kumpulkan? Jabatan yang kita sandang? Atau bahkan tubuh yang setiap hari kita sebut sebagai “milik saya”? Dalam lanjutan tafsir Malik Yaumiddin,

KHAMENEI.ID – Ada dua cara yang sama-sama dapat menghilangkan wajah asli Islam. Yang pertama adalah menjadikannya sekadar urusan sajadah, doa, dan hubungan pribadi dengan Allah swt. Yang kedua adalah mengubahnya menjadi semata-mata alat perebutan kekuasaan, tanpa akhlak, kasih sayang, dan penyucian jiwa. Keduanya tampak berlawanan, tetapi sesungguhnya berakhir pada titik yang

KHAMENEI.ID – Menurut Imam Ali Khamenei qs, kejayaan Islam tidak lahir dari kekuasaan, tetapi dari pembinaan manusia yang kemudian melahirkan masyarakat berperadaban. Ketika berbicara tentang lahirnya peradaban Islam, banyak orang langsung membayangkan penaklukan kota-kota besar, berdirinya pemerintahan Madinah, atau meluasnya wilayah kekuasaan kaum Muslim. Padahal, menurut beliau, semua itu hanyalah

KHAMENEI.ID– Ada ironi yang jarang kita sadari. Hampir setiap hari kita mengeluh tentang ketidakadilan: diperlakukan tidak pantas, diabaikan, atau dikhianati. Kita berharap dunia berlaku adil kepada kita. Namun, pernahkah kita bertanya sebaliknya: sudahkah kita berlaku adil kepada Tuhan? Pertanyaan itu terdengar ganjil. Sebab, bukankah Tuhan tidak membutuhkan apa pun dari manusia?

KHAMENEI.ID– Ada sesuatu yang ganjil dalam cara manusia memandang kekuasaan. Semakin tinggi sebuah jabatan, semakin banyak orang mengejarnya. Orang rela menghabiskan tenaga, uang, bahkan persahabatan demi sebuah kursi. Seolah-olah kehormatan hidup ditentukan oleh seberapa banyak orang yang berada di bawah perintahnya. Padahal, dalam pandangan Islam, jabatan bukanlah hadiah. Ia adalah amanah

KHAMENEI.ID– Setiap zaman memiliki badai yang berbeda. Ada masa ketika perang menjadi ancaman terbesar. Ada masa ketika kelaparan melumpuhkan peradaban. Hari ini, badai itu menjelma dalam bentuk yang lebih rumit: krisis moral, konflik geopolitik, polarisasi politik, hingga kegelisahan yang merambat hampir ke seluruh penjuru dunia. Tidak ada kawasan yang benar-benar tenang.









