

KHAMENEI.ID – Ada orang yang semakin dipuji semakin sulit melihat kekurangannya sendiri. Ia mengira sanjungan sebagai bukti kebaikan, keselamatan sebagai tanda bahwa dirinya tidak bersalah, dan kelimpahan nikmat sebagai pengakuan bahwa hidupnya berada di jalan yang benar. Tanpa disadari, ia sedang membangun keyakinan tentang dirinya dari hal-hal yang justru belum tentu

KHAMENEI.ID– Di tengah derasnya arus informasi dan kebebasan berpendapat, kata amar makruf nahi mungkar sering kali terdengar sebagai slogan yang kehilangan ruhnya. Ia kerap dipersempit menjadi urusan menegur kesalahan orang lain, bahkan tak jarang berubah menjadi pembenaran untuk menghakimi. Padahal, jika ditelusuri dari sumber ajaran Islam, konsep ini jauh lebih luas.

KHAMENEI.ID– Peradaban modern sering dipuji sebagai puncak pencapaian manusia. Teknologi melesat, ilmu pengetahuan berkembang tanpa jeda, dan batas-batas geografis seolah lenyap oleh derasnya arus informasi. Namun di balik kemajuan itu, sebuah pertanyaan mendasar tetap menggantung: benarkah manusia hari ini semakin beradab? Hari peringatan Isra Mikraj atau Maulid Nabi saw sering mengajak

KHAMENEI.ID– Ada satu godaan yang hampir selalu datang ketika seseorang memegang jabatan: merasa bahwa keberhasilan bergantung sepenuhnya pada kecakapan diri. Semakin besar tanggung jawab, semakin padat jadwal, semakin banyak keputusan yang harus diambil, semakin mudah pula seseorang lupa bahwa ada sesuatu yang jauh lebih mendasar daripada sekadar menyelesaikan pekerjaan. Ia adalah

KHAMENEI.ID– Di mata publik, seorang pemimpin sering dikenang karena pidato-pidatonya yang membakar semangat, keberaniannya menghadapi kekuasaan, atau keputusan-keputusan besar yang mengubah arah sejarah. Namun sejarah kerap menyembunyikan satu ruang sunyi yang justru menjadi sumber dari semua keberanian itu: ruang tempat seseorang berhadapan dengan dirinya sendiri dan dengan Tuhan. Barangkali di sanalah

KHAMENEI.ID– Ada masa ketika sebuah puisi hanya dianggap rangkaian kata yang indah. Namun hari ini, di tengah derasnya arus media sosial dan banjir informasi, puisi telah menjelma menjadi sesuatu yang jauh lebih besar: ia mampu menggerakkan hati, membentuk cara pandang, bahkan menentukan arah sebuah generasi. Itulah sebabnya, penyair sesungguhnya tidak sedang

KHAMENEI.ID– Ada banyak orang mengaku mencintai. Namun sejarah selalu mengajarkan satu hal yang sama: cinta yang sejati hampir tidak pernah berhenti pada perasaan. Ia selalu meminta bukti. Demikian pula kecintaan kepada Ahlul Bait. Mengagungkan nama mereka, menghadiri majelis mereka, atau mengulang kisah-kisah keagungan mereka hanyalah awal. Yang jauh lebih sulit adalah

KHAMENEI.ID– Suatu bangsa tidak hanya dibangun oleh sumber daya alam, teknologi, atau besarnya investasi. Ada sesuatu yang jauh lebih mendasar: cara masyarakat memandang kerja. Di sinilah ekonomi sesungguhnya bermula bukan di ruang rapat para pengambil kebijakan, melainkan dalam cara setiap orang menghargai usaha, produktivitas, dan waktu. Ketika bekerja hanya dipahami sebagai

KHAMENEI.ID – Perang tidak selalu dimulai dengan dentuman senjata. Kadang-kadang, ia dimulai dari perubahan makna sebuah kata. Kata “jihad” yang semula dipahami sebagai perjuangan mulia berubah menjadi sinonim terorisme. “Kebebasan” dipersempit menjadi pembenaran bagi kebebasan tanpa batas. “Kemajuan” diukur semata-mata dari tingkat konsumsi, sementara “agama” didorong agar hanya menjadi urusan pribadi

KHAMENEI.ID – Ada banyak peristiwa besar di dunia yang lahir dari perencanaan matang, anggaran promosi yang fantastis, dan kampanye media yang masif. Stadion dipenuhi melalui iklan, konser disesaki melalui pemasaran digital, dan agenda politik digerakkan oleh mesin propaganda. Namun ada sebuah fenomena yang terus berulang setiap tahun tanpa bergantung pada

KHAMENEI.ID– Ada anggapan yang terus berulang dari generasi ke generasi: agama adalah wilayah yang serius, sedangkan seni adalah ruang kebebasan yang penuh imajinasi. Keduanya seolah berdiri di dua kutub yang saling berjauhan. Padahal, jika menengok lebih dalam pada tradisi Islam, kita justru menemukan kenyataan yang berbeda. Islam bukan hanya menerima seni,