

KHAMENEI.ID – Sebuah masyarakat tidak selalu runtuh karena serangan dari luar. Ada kalanya kehancuran justru bermula dari sesuatu yang tumbuh diam-diam di dalam dirinya: keputusan yang diambil tanpa pertimbangan, pendirian yang dipertahankan meski terbukti keliru, kekaguman berlebihan terhadap diri sendiri, dan kebiasaan menunda pekerjaan sampai kesempatan berlalu. Tak ada ledakan besar

KHAMENEI.ID – Di tengah luasnya wilayah dunia Islam, besarnya jumlah penduduk Muslim, dan melimpahnya sumber daya yang dimiliki negeri-negeri Islam, sebuah pertanyaan besar terus mengemuka: mengapa umat Islam masih menghadapi begitu banyak konflik, peperangan, dan penderitaan? Dalam pandangan Sayyid Ali Khamenei qs, jawabannya mungkin terletak pada sesuatu yang sangat mendasar:

KHAMENEI.ID– Ada kekuatan yang tampak besar karena suara yang ditimbulkannya. Ia memiliki teknologi, uang, senjata, pengaruh, dan jaringan kekuasaan yang membuat orang lain gentar sebelum pertarungan dimulai. Namun sejarah berkali-kali memperlihatkan sesuatu yang ganjil: kekuatan sebesar itu tidak selalu pandai membaca masa depan. Ada saat ketika mereka merasa sedang memberikan pukulan

KHAMENEI.ID– Ada bentuk penjajahan yang tidak membutuhkan tentara. Ia tidak selalu datang dengan kapal perang, pagar kawat, atau bendera asing yang dikibarkan di atas gedung pemerintahan. Ia bisa bekerja lebih halus: melalui buku yang kita baca, teori yang kita anggap ilmiah, kebiasaan yang kita tiru, bahkan melalui cara kita memahami siapa

KHAMENEI.ID– Ada cara sederhana untuk mengukur harapan sebuah negeri: lihat anak mudanya. Bukan dari apa yang mereka katakan di ruang-ruang resmi, melainkan dari ke mana kaki mereka melangkah ketika tidak ada yang menyuruh. Di tengah derasnya kabar tentang kegelisahan generasi muda, tentang anak-anak muda yang dianggap semakin jauh dari nilai-nilai, apatis

KHAMENEI.ID– Ada perang yang tidak selalu terdengar oleh telinga. Tidak ada dentuman, tidak ada asap, tidak ada garis depan yang jelas. Ia berlangsung di dalam kepala manusia: antara keyakinan bahwa masa depan masih layak diperjuangkan dan bisikan yang perlahan meyakinkan bahwa semuanya sia-sia. Bagi anak muda, perang semacam itu bisa lebih

KHAMENEI.ID– Ada gagasan yang kadang baru terasa nilainya setelah bencana datang. Persatuan Islam adalah salah satunya. Ketika seruan untuk menyatukan umat terdengar, ia mungkin dianggap terlalu idealistis, bahkan mengganggu kepentingan politik yang sudah telanjur mapan. Namun ketika perang saudara pecah, masyarakat tercerai, dan satu per satu negeri Muslim dilanda kekacauan, pertanyaan

KHAMENEI.ID– Ada kecenderungan untuk menempatkan agama di satu ruang yang dianggap aman: masjid, mimbar, doa, dan urusan batin. Sementara politik, pemerintahan, kekuasaan, dan tata kehidupan bersama diletakkan di ruang lain, seolah keduanya tak pernah saling bersinggungan. Pemisahan itu tampak sederhana. Namun dalam sejarah Islam, terutama sejak kenabian Muhammad saw, batas tersebut

KHAMENEI.ID– Ada satu ujian keadilan yang sering kali luput justru ketika kita merasa paling benar: bagaimana bersikap terhadap orang yang kita benci. Kepada mereka yang sehaluan, bersikap adil relatif mudah. Tetapi ketika berhadapan dengan orang yang berbeda keyakinan, berbeda pandangan politik, atau bahkan dianggap sebagai musuh, ukuran keadilan berubah menjadi jauh

KHAMENEI.ID– Ada jenis perpecahan yang tidak dimulai dari perang. Ia tumbuh perlahan dari prasangka, fanatisme, dan keyakinan bahwa kelompok sendiri adalah satu-satunya pemilik kebenaran. Mula-mula hanya perbedaan pendapat. Lalu menjadi jarak. Jarak berubah menjadi kecurigaan. Dan pada akhirnya, sesama bagian dari satu umat mulai saling memandang sebagai lawan. Al-Quran mengingatkan bahaya

KHAMENEI.ID– Ada masa ketika sebuah bangsa tidak lagi cukup hanya bertahan. Ia harus memilih. Memilih apakah akan tetap berjalan dalam bayang-bayang perpecahan, atau menemukan kembali kekuatan yang pernah membuatnya berdiri tegak. Bagi dunia Islam, pilihan semacam itu bukan sekadar urusan politik. Ia menyangkut martabat, masa depan, bahkan cara sebuah umat memandang









