

KHAMENEI.ID– Di tengah perlombaan global yang semakin sengit, banyak bangsa berlomba membangun kekuatan melalui teknologi, ekonomi, dan militer. Namun ada pertanyaan yang jarang diajukan secara mendalam: dari mana sesungguhnya kekuatan sebuah bangsa berasal? Apakah cukup dari senjata yang canggih, industri yang besar, atau kekayaan alam yang melimpah? Pertanyaan itu menjadi

Fondasi Revolusi Revolusi tidak pernah lahir dari ruang kosong. Ia tumbuh dari ingatan panjang, dari kepercayaan yang menumpuk pelan-pelan seperti lapisan tanah yang mengeras menjadi fondasi. Ketika Revolusi Iran meledak pada 1979, banyak orang melihatnya sebagai ledakan politik. Namun dalam perspektif Imam Ali Khamenei, peristiwa itu lebih tepat disebut sebagai

Setiap musim haji tiba, jutaan manusia bergerak menuju satu titik di bumi. Gerak itu tampak ritual—putaran thawaf, derap sa’i, lempar jumrah. Namun di balik arus manusia itu, selalu ada narasi besar yang mencoba menafsirkan makna haji bagi dunia Islam. Selama lebih dari tiga dekade, salah satu narasi yang konsisten muncul

Ayatullah Sayyid Mojtaba Hosseini Khamenei hf, Pemimpin Agung Revolusi Islam, dalam pesannya menyambut tahun 1405 Hijriah Syamsi, meninjau kembali peristiwa-peristiwa sepanjang tahun 1404, termasuk tiga perang militer dan keamanan yang dipaksakan terhadap bangsa Iran. Beliau mengenang para syuhada, khususnya Pemimpin Revolusi yang syahid dan agung, para tunas muda di sekolah

Warisan 1000 Tahun Setiap revolusi biasanya dijelaskan dengan bahasa politik: krisis ekonomi, ketidakpuasan sosial, atau pergolakan kekuasaan. Namun dalam pandangan Imam Ali Khamenei, Revolusi Islam tidak bisa dipahami hanya melalui lensa itu. Ia melihatnya sebagai hasil dari sebuah proses panjang—bahkan sangat panjang—yang menumpuk selama berabad-abad. Bukan kerja satu generasi, melainkan

Penjelasan Singkat Ayatullah Sayyid Ali Khamenei Tentang Sebuah Hadis عَن اَبی عَبدِ اللهِ عَلَیهِ السَّلام قالَ: یَنبَغی لِلمُؤمِنِ اَن یَکونَ فیهِ ثَمانُ خِصالٍ وَقورٌ عِندَ الهَزاهِزِ صَبورٌ عِندَ البَلاءِ شَکورٌ عِندَ الرَّخاءِ قانِعٌ بِما رَزَقَهُ اللهُ لا یَظلِمُ الاَعداءَ وَ لا یَتَحامَلُ لِلاَصدِقاءِ بَدَنُهُ مِنهُ فی تَعَبٍ وَ النّاسُ مِنهُ

Ada masa ketika masa depan terasa seperti lorong panjang tanpa ujung. Gelap, sunyi, dan membingungkan. Orang-orang bergerak, tetapi tak benar-benar tahu ke mana hendak menuju. Dalam situasi seperti itu, yang paling melelahkan bukanlah perjuangan itu sendiri, melainkan ketiadaan arah. Dan sejarah, berkali-kali, menunjukkan bahwa satu gagasan yang tepat bisa mengubah

Umat Jika pada bagian sebelumnya haji dipahami sebagai perjalanan menaklukkan ego, maka ayat berikutnya membuka lapisan yang lebih luas: haji bukan hanya perjalanan spiritual pribadi, tetapi juga proyek peradaban. Ia bukan sekadar ibadah individu, melainkan pertemuan akbar umat manusia yang sarat manfaat—manfaat spiritual, sosial, bahkan politik dalam arti paling luas.

Setiap tahun, jutaan orang pulang dari Mekkah dengan label baru: haji. Gelar sosial yang melekat, foto kenangan yang tersimpan, kisah perjalanan yang diceritakan ulang. Namun sebuah pertanyaan sering luput diajukan: apa sebenarnya yang dibawa pulang dari perjalanan itu selain pengalaman spiritual pribadi? Pertanyaan inilah yang menjadi benang merah dalam banyak

Kekuasaan selalu memikat. Ia menjanjikan pengaruh, kendali, dan—sering kali—kehormatan. Dalam percakapan sehari-hari, ketika orang menyebut “pemerintahan”, yang terbayang biasanya adalah kursi-kursi tinggi, keputusan besar, dan tangan-tangan yang menentukan arah nasib banyak orang. Namun, di balik gemerlap itu, terselip satu pertanyaan yang jarang diajukan secara jujur: apakah pemerintahan memang tujuan utama,

Ada momen dalam sejarah Islam ketika haji berubah dari sekadar ibadah ritual menjadi peristiwa politik yang terang benderang. Momen itu terjadi pada tahun kesembilan hijriah, ketika pada musim haji diumumkan sebuah deklarasi yang mengguncang lanskap keagamaan Arab: pemutusan hubungan dengan kaum musyrik. Sejak saat itu, haji tidak pernah benar-benar hanya