Aqidah

Empat Sifat yang Perlahan Menghancurkan Sebuah Masyarakat

KHAMENEI.ID – Sebuah masyarakat tidak selalu runtuh karena serangan dari luar. Ada kalanya kehancuran justru bermula dari sesuatu yang tumbuh diam-diam di dalam dirinya: keputusan yang diambil tanpa pertimbangan, pendirian yang dipertahankan meski terbukti keliru, kekaguman berlebihan terhadap diri sendiri, dan kebiasaan menunda pekerjaan sampai kesempatan berlalu. Tak ada ledakan besar

Harapan Anak Muda dan Perang yang Diam-Diam Meruntuhkannya

KHAMENEI.ID– Ada perang yang tidak selalu terdengar oleh telinga. Tidak ada dentuman, tidak ada asap, tidak ada garis depan yang jelas. Ia berlangsung di dalam kepala manusia: antara keyakinan bahwa masa depan masih layak diperjuangkan dan bisikan yang perlahan meyakinkan bahwa semuanya sia-sia. Bagi anak muda, perang semacam itu bisa lebih

Persatuan Islam dan Harga yang Dibayar karena Perpecahan

KHAMENEI.ID– Ada gagasan yang kadang baru terasa nilainya setelah bencana datang. Persatuan Islam adalah salah satunya. Ketika seruan untuk menyatukan umat terdengar, ia mungkin dianggap terlalu idealistis, bahkan mengganggu kepentingan politik yang sudah telanjur mapan. Namun ketika perang saudara pecah, masyarakat tercerai, dan satu per satu negeri Muslim dilanda kekacauan, pertanyaan

Islam Tak Hanya Mengatur Masjid, tetapi Juga Kehidupan

KHAMENEI.ID– Ada kecenderungan untuk menempatkan agama di satu ruang yang dianggap aman: masjid, mimbar, doa, dan urusan batin. Sementara politik, pemerintahan, kekuasaan, dan tata kehidupan bersama diletakkan di ruang lain, seolah keduanya tak pernah saling bersinggungan. Pemisahan itu tampak sederhana. Namun dalam sejarah Islam, terutama sejak kenabian Muhammad saw, batas tersebut

Sabar dan Tawakal: Dua Kekuatan untuk Menjaga Arah

KHAMENEI.ID– Ada pekerjaan yang selesai setelah tenaga dicurahkan. Ada pula pekerjaan yang menuntut sesuatu yang lebih sulit: bertahan setelah tenaga hampir habis, ketika hasil belum tampak dan jalan di depan masih dipenuhi ketidakpastian. Di titik semacam itu, manusia tidak hanya membutuhkan kemampuan bekerja. Ia membutuhkan kesabaran untuk terus berjalan dan tawakal

Keadilan yang Tidak Boleh Gugur karena Kebencian

KHAMENEI.ID– Ada satu ujian keadilan yang sering kali luput justru ketika kita merasa paling benar: bagaimana bersikap terhadap orang yang kita benci. Kepada mereka yang sehaluan, bersikap adil relatif mudah. Tetapi ketika berhadapan dengan orang yang berbeda keyakinan, berbeda pandangan politik, atau bahkan dianggap sebagai musuh, ukuran keadilan berubah menjadi jauh

Persatuan Islam Dalam Ketaatan Kepada Rasulullah saw

KHAMENEI.ID– Ada jenis perpecahan yang tidak dimulai dari perang. Ia tumbuh perlahan dari prasangka, fanatisme, dan keyakinan bahwa kelompok sendiri adalah satu-satunya pemilik kebenaran. Mula-mula hanya perbedaan pendapat. Lalu menjadi jarak. Jarak berubah menjadi kecurigaan. Dan pada akhirnya, sesama bagian dari satu umat mulai saling memandang sebagai lawan. Al-Quran mengingatkan bahaya

Maulid Nabi dan Persatuan yang Dipertaruhkan Dunia Islam 

KHAMENEI.ID– Ada masa ketika sebuah bangsa tidak lagi cukup hanya bertahan. Ia harus memilih. Memilih apakah akan tetap berjalan dalam bayang-bayang perpecahan, atau menemukan kembali kekuatan yang pernah membuatnya berdiri tegak. Bagi dunia Islam, pilihan semacam itu bukan sekadar urusan politik. Ia menyangkut martabat, masa depan, bahkan cara sebuah umat memandang

Ketika Janji Tuhan Terasa Terlambat

KHAMENEI.ID– Ada jenis ketidaksabaran yang tidak selalu tampak seperti kemarahan. Ia bisa hadir sebagai pertanyaan yang diulang-ulang: mengapa belum terjadi, kapan keadaan berubah, sampai kapan harus menunggu? Pada mulanya pertanyaan itu terdengar wajar. Tetapi jika terus dipelihara, ia dapat berubah menjadi sesuatu yang lebih berbahaya: kecurigaan kepada janji Tuhan. Al-Qur’an menyimpan

Perempuan dan Pertarungan atas Nama Hak Asasi Manusia

KHAMENEI.ID– Di tengah riuh perdebatan tentang hak perempuan, ada satu ironi yang terus mengusik: perempuan kerap dibicarakan sebagai objek, tetapi jarang didengar sebagai subjek sejarah. Mereka disebut ketika hendak membuktikan keberhasilan sebuah gerakan, dijadikan alasan untuk membenarkan intervensi, atau dihadirkan dalam pidato tentang kebebasan. Namun ketika perempuan itu sendiri turun ke