

KHAMENEI.ID – Ada yang lebih berbahaya daripada melakukan kesalahan: kehilangan kemampuan untuk menyadari bahwa dirinya sedang salah. Sebab, selama seseorang masih bersedia menegur dirinya sendiri, masih ada pintu yang terbuka untuk kembali. Namun, ketika suara hati mulai bungkam, kesalahan dapat tumbuh menjadi kebiasaan, kebiasaan menjelma pembenaran dan pembenaran perlahan membentuk watak

KHAMENEI.ID– Ada satu tanda yang hampir selalu muncul ketika sebuah lembaga kehilangan jiwanya: pintunya semakin sulit diketuk. Orang-orang yang dahulu mudah ditemui, kini hanya bisa dijangkau melalui prosedur, jadwal, sekretaris, dan meja-meja administrasi. Hubungan yang dulu hangat perlahan berubah menjadi hubungan formal. Yang tersisa hanyalah jabatan, sementara kedekatan menghilang. Risiko itu

KHAMENEI.ID– Setiap hari kita dibanjiri peristiwa. Berita datang tanpa jeda, media sosial memperlihatkan potongan-potongan realitas, dan opini berseliweran lebih cepat daripada kesempatan untuk berpikir. Anehnya, di tengah limpahan informasi itu, manusia justru semakin mudah tersesat dalam penilaian. Kita melihat banyak hal, tetapi tidak selalu memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi. Barangkali

KHAMENEI.ID– Di tengah derasnya arus informasi, kemajuan teknologi, dan kemegahan peradaban modern, dunia justru masih menyimpan luka yang sama: ketidakadilan. Yang kuat terus memperbesar pengaruhnya, sementara yang lemah kerap dipaksa menerima nasib. Konflik, penjajahan dalam berbagai bentuk, eksploitasi ekonomi, hingga manipulasi opini publik menjadi wajah lain dari sebuah kenyataan lama: dunia

KHAMENEI.ID– Ada anggapan yang begitu melekat dalam benak banyak orang bahwa jahiliah hanyalah nama sebuah zaman sebelum Islam datang. Ia identik dengan padang pasir, penyembahan berhala, peperangan antarsuku, dan masyarakat Arab berabad-abad silam. Padahal Al-Qur’an dan hadis memberikan pengertian yang jauh lebih dalam. Jahiliah bukan sekadar periode sejarah, melainkan keadaan jiwa

KHAMENEI.ID– Ada ironi yang selalu berulang dalam sejarah agama. Seseorang bisa tampak begitu tekun beribadah, hafal ayat-ayat suci, rajin shalat malam, bahkan menggetarkan hati orang yang melihatnya. Namun, semua itu ternyata tidak selalu menjadi tanda bahwa ia telah sampai pada hakikat agama. Di titik inilah sejarah Khawarij menjadi cermin yang tak

KHAMENEI.ID– Ada kalimat yang mungkin termasuk paling sering dikutip sekaligus paling sering disalahpahami dalam khazanah Islam: “Perempuan itu kurang akal.” Potongan kalimat itu beredar begitu saja, lepas dari konteks sejarah, hingga akhirnya berubah menjadi semacam stempel yang dianggap membenarkan anggapan bahwa perempuan secara kodrati berada di bawah laki-laki. Padahal, pertanyaan yang

KHAMENEI.ID– Di tengah dunia yang semakin bising oleh caci maki, perdebatan politik sering berubah menjadi perlombaan saling menjatuhkan. Lawan dianggap musuh yang harus dilenyapkan, bukan manusia yang masih mungkin diajak berbicara. Akibatnya, ruang publik kehilangan sesuatu yang paling mendasar: kemampuan untuk berdialog dengan akal sehat. Padahal, sejarah pernah memperlihatkan teladan yang

KHAMENEI.ID– Ada anggapan yang terus bertahan hingga hari ini: menjadi orang saleh berarti menjauh dari dunia. Kekayaan dicurigai, kemajuan dianggap ancaman, dan kehidupan yang nyaman dipandang sebagai penghalang menuju Tuhan. Padahal, jika menelusuri ajaran Islam lebih dalam, yang ditolak bukanlah dunia itu sendiri, melainkan ketika dunia berubah menjadi pusat tujuan hidup.

KHAMENEI.ID– Kekuasaan sering kali dipahami sebagai sesuatu yang lahir dari kekuatan: siapa yang paling berkuasa, dialah yang memerintah. Sejarah dipenuhi kisah tentang takhta yang diwariskan melalui darah, direbut lewat pedang, atau dipertahankan dengan ketakutan. Namun Islam menawarkan gagasan yang jauh lebih menarik. Seorang pemimpin, betapapun mulianya kedudukannya, tidak cukup hanya merasa

KHAMENEI.ID– Ada sesuatu yang ganjil dalam hubungan manusia dengan dunia. Hampir semua orang sadar bahwa hidup ini sementara. Kita menyaksikan kematian, kehilangan, dan perubahan setiap hari. Namun anehnya, kesadaran itu tidak serta-merta membuat kita menjaga jarak. Justru sebaliknya. Semakin lama hidup, semakin banyak yang merasa dunia adalah tempat menetap, bukan sekadar









