

KHAMENEI.ID – Sebuah masyarakat tidak selalu runtuh karena serangan dari luar. Ada kalanya kehancuran justru bermula dari sesuatu yang tumbuh diam-diam di dalam dirinya: keputusan yang diambil tanpa pertimbangan, pendirian yang dipertahankan meski terbukti keliru, kekaguman berlebihan terhadap diri sendiri, dan kebiasaan menunda pekerjaan sampai kesempatan berlalu. Tak ada ledakan besar

KHAMENEI.ID – Ada organisasi yang memiliki ribuan anggota, jaringan luas, sumber daya besar, dan semangat yang melimpah. Namun tanpa arah yang jelas, semua kekuatan itu bisa bergerak tanpa benar-benar sampai ke tujuan. Di situlah, menurut Imam Khamenei, pentingnya apa yang ia sebut sebagai “hayat-haye andishevarz” atau kelompok-kelompok pemikir. Ia secara

KHAMENEI.ID – Bayangkan seorang penulis datang kepada para sastrawan terbaik di zamannya. Ia membawa sebuah teks, lalu berkata: Kalau kalian menganggap saya mengarangnya, buatlah satu karya seperti ini. Bukan untuk dirinya sendiri. Bukan pula dengan kemampuan yang sama. Ia membolehkan mereka mengumpulkan seluruh orang yang dianggap paling ahli. Para penyair,

KHAMENEI.ID – Ada teks yang semakin lama dibaca semakin terasa biasa. Ada pula teks yang justru seperti menyimpan sesuatu di balik setiap kalimatnya. Sekali dibaca, ia memberi kesan. Dibaca kembali, muncul makna lain. Digali lebih dalam, seakan masih ada ruang yang belum tersentuh. Dalam penjelasan Imam Ali Khamenei qs tentang

KHAMENEI.ID– Ada bentuk kemunduran yang tidak selalu tampak sebagai kebodohan. Ia bahkan bisa datang dengan pakaian kesalehan, mengutip teks-teks agama, dan berbicara atas nama kehati-hatian. Kemunduran itu disebut tahajjur: keadaan ketika seseorang begitu terpaku pada bentuk lahiriah hukum sehingga kehilangan kemampuan membaca daya hidup yang terkandung di dalamnya. Masalahnya bukan pada

KHAMENEI.ID– Ada saat ketika kebohongan tidak datang sebagai kebohongan. Ia mengenakan pakaian kebenaran, meminjam bahasa keadilan, lalu berjalan di tengah kerumunan tanpa mudah dikenali. Justru karena itulah ia berbahaya. Yang membuat sebuah masyarakat rapuh bukan semata-mata hadirnya orang yang terang-terangan memusuhi, melainkan ketika batas antara kawan dan lawan, antara kebenaran dan

KHAMENEI.ID– Ada ironi yang sulit diabaikan dalam politik dunia: mereka yang paling lantang berbicara tentang kebebasan tidak selalu menjadi yang paling setia menjaganya. Kata hak asasi manusia dapat terdengar begitu mulia di podium, tetapi menjadi kehilangan makna ketika berhadapan dengan kepentingan politik. Di titik itulah kritik terhadap Barat menemukan persoalan dasarnya.

KHAMENEI.ID– Dalam politik luar negeri, sebuah negara tidak hanya berhadapan dengan negara lain. Ia berhadapan dengan dirinya sendiri: seberapa teguh ia memegang prinsip, seberapa jernih ia membaca keadaan, dan seberapa lentur ia mencari jalan ketika di hadapannya berdiri tembok yang sulit ditembus. Di situlah tiga kata izzah, hikmah dan maslahat menjadi

KHAMENEI.ID– Ada kekalahan yang dikenang sebagai kemenangan, dan ada kemenangan yang justru dilupakan sejarah. Karbala termasuk yang pertama. Di padang tandus itu, Husain bin Ali a.s kehilangan hampir seluruh orang yang berdiri di sisinya. Keluarganya menjadi tawanan. Darah tertumpah. Tubuh-tubuh bergelimpangan. Secara kasatmata, tidak banyak yang tersisa selain duka. Namun sejarah

KHAMENEI.ID – Ketika Nabi Ibrahim as dilemparkan ke dalam api, ada satu hal yang tampak bertentangan dengan pengalaman manusia sehari-hari: api yang biasanya membakar, kali ini tidak membakar. Al-Qur’an mengabadikan peristiwa itu dengan firman Allah swt: يَا نَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلَامًا عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ “Wahai api, jadilah dingin dan keselamatan bagi

KHAMENEI.ID– Ada jenis kekuasaan yang membuat seseorang takut kehilangan jabatan. Ada pula kekuasaan yang justru membuat seseorang takut berlaku zalim. Keduanya sama-sama berbicara tentang kepemimpinan, tetapi berdiri di dua dunia moral yang berbeda. Imam Ali bin Abi Thalib a.s berada di dunia yang kedua. Pada suatu masa ketika wilayah kekuasaannya membentang









