

KHAMENEI.ID– Kekuasaan sering kali diukur dari angka. Berapa besar pertumbuhan ekonomi, seberapa tinggi investasi, atau berapa banyak pembangunan yang berhasil diwujudkan. Semua itu penting. Namun dalam pandangan Islam, ada ukuran yang jauh lebih mendasar daripada sekadar keberhasilan administratif. Seorang pemimpin tidak hanya diminta mengatur kehidupan dunia, tetapi juga membantu manusia menemukan

KHAMENEI.ID– Ada satu godaan besar yang kerap menyelinap dalam kehidupan modern: mencampuradukkan prinsip dengan perasaan pribadi. Kita mudah memaafkan orang yang kita sukai meski ia salah, dan mudah membenci orang yang tidak kita sukai meski ia benar. Akibatnya, ukuran benar dan salah sering bergeser mengikuti kedekatan, kepentingan, atau sentimen sesaat.

KHAMENEI.ID– Ada satu anggapan yang sering muncul dalam politik: yang perlu diawasi adalah pemerintah. Padahal, sejarah menunjukkan kenyataan yang lebih rumit. Kekuasaan tidak hanya berisiko menyimpang di tangan penguasa eksekutif, tetapi juga di tangan mereka yang diberi mandat untuk mengawasi. Di ruang parlemen, di kantor pemerintahan, bahkan di lembaga yang

KHAMENEI.ID – Ada sebuah pertanyaan yang terus berulang dalam sejarah dunia Islam: mengapa bangsa-bangsa Muslim, yang memiliki jumlah penduduk besar, sumber daya melimpah, serta warisan peradaban yang panjang, masih sering berada dalam posisi yang lemah? Mengapa sebagian negara Muslim menghadapi tekanan ekonomi? Mengapa konflik internal terus muncul? Mengapa intervensi asing,

KHAMENEI.ID– Setiap kali kata takwa disebut, sebagian besar dari kita segera membayangkan ritual-ritual pribadi: salat yang khusyuk, puasa yang tertib, zikir yang panjang, atau kehati-hatian dalam menjauhi larangan agama. Takwa seolah menjadi urusan seseorang dengan Tuhannya semata. Ia dipahami sebagai kesalehan yang berlangsung di ruang sunyi, jauh dari hiruk-pikuk kehidupan

KHAMENEI.ID– Ada ironi yang sering kita jumpai dalam percakapan sehari-hari. Di satu sisi, kita bangga dengan produk dalam negeri dan menyerukan agar masyarakat mencintai hasil karya bangsa sendiri. Namun di sisi lain, ketika hendak membeli sesuatu, tak sedikit orang yang justru mencari merek luar negeri karena dianggap lebih terpercaya. Di

KHAMENEI.ID– Ada satu kebiasaan yang kian menguat di ruang publik kita: menilai segala sesuatu hanya dari hasil yang tampak. Ketika sebuah program berhasil, pujian mengalir. Ketika ada kekurangan, kritik datang bertubi-tubi. Dalam suasana seperti itu, sering kali satu hal yang tak terlihat justru luput dari perhatian: niat. Padahal, dalam kehidupan

KHAMENEI.ID– Sudah lebih dari enam dekade, Palestina menjadi luka yang tak kunjung sembuh di tubuh dunia Islam. Generasi berganti, pemimpin datang dan pergi, rezim tumbang lalu digantikan rezim baru, tetapi satu kenyataan tetap bertahan: penderitaan rakyat Palestina terus berlangsung di hadapan mata dunia. Yang lebih menyakitkan bukan hanya karena tragedi

KHAMENEI.ID– Di ruang publik, perdebatan tentang kekuasaan hampir selalu berakhir pada kecurigaan. Ketika seseorang mendekati pemerintahan, memasuki lingkaran pengambil keputusan, atau mendukung sebuah sistem politik, tidak sedikit yang langsung menuduhnya sedang mengejar dunia. Seolah-olah kekuasaan adalah wilayah yang secara otomatis mencemari kesucian niat. Padahal, persoalannya tidak sesederhana itu. Yang sering

KHAMENEI.ID – Perang ideologi tidak pernah benar-benar berakhir. Ia hanya berganti nama. Ketika Uni Soviet runtuh pada awal 1990-an, banyak pengamat Barat mengira sejarah telah mencapai titik akhirnya. Liberalisme dan demokrasi liberal dinyatakan sebagai pemenang mutlak. Tidak ada lagi rival besar yang dianggap mampu menandingi model politik dan ekonomi Barat.

KHAMENEI.ID– Di era banjir informasi, manusia semakin mudah memilih siapa yang ingin dipercaya. Ada tokoh yang dikagumi karena kecerdasannya, ada yang dihormati karena jasa-jasanya, dan ada pula yang diikuti karena popularitasnya. Namun justru di tengah derasnya arus figur publik, influencer, pemimpin politik, dan tokoh agama, muncul satu pertanyaan mendasar: bagaimana









