

KHAMENEI.ID – Sebuah masyarakat tidak selalu runtuh karena serangan dari luar. Ada kalanya kehancuran justru bermula dari sesuatu yang tumbuh diam-diam di dalam dirinya: keputusan yang diambil tanpa pertimbangan, pendirian yang dipertahankan meski terbukti keliru, kekaguman berlebihan terhadap diri sendiri, dan kebiasaan menunda pekerjaan sampai kesempatan berlalu. Tak ada ledakan besar

KHAMENEI.ID– Ada sebuah pertanyaan yang kerap terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya menentukan umur sebuah bangsa: manusia seperti apa yang ingin kita lahirkan? Peradaban tidak dibangun hanya dengan gedung tinggi, jalan raya, teknologi, atau pertumbuhan ekonomi. Semua itu bisa menjadi tanda kemajuan, tetapi bukan fondasinya. Di bawah setiap peradaban yang bertahan lama selalu

KHAMENEI.ID– Ada masa ketika anak muda merasa paling revolusioner. Suaranya lantang, sikapnya tegas, dan keberaniannya menantang siapa saja yang dianggap tidak cukup radikal. Tetapi waktu mempunyai cara sendiri untuk menguji keberanian semacam itu. Ia memisahkan keyakinan yang tumbuh dari kedalaman pikiran dari keyakinan yang sekadar hidup di permukaan slogan. Di situlah

KHAMENEI.ID– Ada kekuasaan yang membuat manusia semakin tinggi, tetapi ada pula kekuasaan yang justru membuatnya kehilangan ukuran tentang dirinya sendiri. Di situlah politik sering berubah menjadi permainan: siapa yang paling lihai membaca kelemahan lawan, siapa yang paling pandai menyusun siasat, siapa yang mampu mempertahankan kuasa lebih lama. Dalam permainan semacam itu,

KHAMENEI.ID– Ada jenis kebutaan yang tidak lahir dari ketiadaan informasi, melainkan dari keengganan melihat. Di hadapan jejak campur tangan politik, perang, tekanan ekonomi, dan kekerasan yang berlangsung terang-terangan, sebagian orang justru memilih mengatakan: semua itu hanya khayalan. Musuh, dalam pengertian politik, kemudian menjadi kata yang tidak nyaman. Menyebutnya dianggap paranoia. Membicarakannya

KHAMENEI.ID – Di meja diplomasi, dua pihak semestinya datang dengan kepentingan masing-masing. Mereka berdebat, menawar, mengurangi tuntutan, lalu mencari titik temu. Tetapi bagaimana jika meja perundingan justru dipakai oleh pihak yang lebih kuat untuk memaksakan kehendaknya? Pertanyaan inilah yang menjadi pijakan penting dalam pandangan Imam Ali Khamenei qs mengenai negosiasi Iran

KHAMENEI.ID– Ada luka yang tak kunjung menutup bukan karena waktu berhenti, melainkan karena dunia terus menolak melihatnya. Palestina adalah salah satunya. Selama puluhan tahun, tanah itu menjadi tempat sebuah bangsa kehilangan rumah, tanah air, dan ruang hidupnya sendiri, sementara dunia yang mengaku menjunjung hak asasi manusia berkali-kali menyaksikannya dari kejauhan. Bagi

KHAMENEI.ID– Di banyak tempat, umat Islam seperti hidup di tengah dua arus yang berlawanan. Arus pertama mengajak mereka berhenti sejenak dari perbedaan, melihat persamaan, lalu berdiri sebagai satu kekuatan. Arus kedua justru bekerja sebaliknya: membesarkan perbedaan, menyalakan kecurigaan, dan membuat sesama Muslim saling memandang sebagai musuh. Pertarungan itu bukan semata-mata pertarungan

KHAMENEI.ID– Ada masa ketika peta dunia seolah memiliki satu pusat gravitasi. Keputusan satu negara dapat mengguncang pemerintahan di negeri lain. Sebuah operasi intelijen bisa mengubah arah sejarah. Sebuah koper berisi uang dapat menjadi alat untuk menjatuhkan pemerintahan yang sah. Banyak bangsa belajar, dengan cara yang pahit, bahwa kedaulatan di atas kertas

KHAMENEI.ID– Ada pemimpin yang tampak besar karena kekuasaan yang berada di tangannya. Ada pula yang menjadi besar justru karena dirinya tidak pernah sepenuhnya ditelan oleh kekuasaan. Pada titik itulah sosok Imam Khomeini qs menjadi menarik untuk dibaca kembali: bukan semata sebagai pemimpin Revolusi Iran, melainkan sebagai gambaran tentang bagaimana kekuasaan politik

KHAMENEI.ID– Ada kegagalan yang tidak selalu tampak sebagai kegagalan. Ia tidak menimbulkan keruntuhan gedung, tidak membuat sirene berbunyi, bahkan kadang tetap terlihat rapi di atas kertas. Salah satunya adalah ketika sebuah gagasan besar tentang transformasi pendidikan disimpan terlalu lama tanpa pernah benar-benar dijalankan. Di situlah persoalan pendidikan sering bermula: bukan karena









