

KHAMENEI.ID – Ada penyimpangan yang lahir bukan karena penolakan besar terhadap kebenaran, melainkan karena satu langkah kecil yang dibiarkan terus berjalan. Pada awalnya hampir tidak terlihat. Jaraknya dengan jalan yang benar hanya sejengkal. Namun semakin lama, jarak itu melebar. Sedikit demi sedikit, hati menjadi semakin asing terhadap kebenaran yang dulu

KHAMENEI.ID– Ada godaan besar bagi lembaga keagamaan untuk merasa lebih terhormat ketika berada jauh dari politik. Tidak ikut bertengkar, tidak masuk ke dalam perdebatan kekuasaan, tidak menyentuh urusan negara. Dari kejauhan, posisi seperti itu tampak suci. Bersih dari lumpur perebutan kepentingan. Tapi justru di situlah persoalannya. Sebuah lembaga yang terus-menerus menghindari

KHANENEI.ID – Ada sebuah anggapan yang kerap terdengar: lembaga keagamaan akan lebih dihormati jika tidak ikut campur dalam urusan politik, tidak terlibat dalam persoalan dunia, dan memilih berdiri di pinggir setiap perdebatan. Semakin jauh dari konflik, semakin tinggi martabatnya. Semakin tidak terdengar suaranya, semakin terjaga kehormatannya. Pandangan semacam itu, menurut pandangan

KHAMENEI.ID – Hubungan antara ulama dan negara Islam sering kali ditempatkan dalam dua kutub yang berlawanan. Di satu sisi, ulama dianggap harus selalu mendukung pemerintah tanpa kritik. Di sisi lain, setiap ulama yang mendukung negara atau terlibat dalam pemerintahan dicurigai telah kehilangan independensinya. Dua pandangan tersebut, dalam perspektif Sayyid Ali

KHAMENEI.ID – Sejak Revolusi Islam Iran meletus pada 1979, ada dua istilah yang hampir selalu diulang oleh para pengkritiknya. Yang pertama adalah tuduhan bahwa Iran merupakan “pemerintahan mullah” atau rule of the clerics. Yang kedua adalah pelabelan “ulama pemerintah” terhadap para ulama yang mendukung sistem Republik Islam. Dua istilah ini

KHAMENEI.ID – Banyak orang beranggapan bahwa lembaga keagamaan akan lebih dihormati jika menjauh dari persoalan politik, konflik sosial, dan isu-isu besar yang membelah masyarakat. Logikanya sederhana: semakin netral, semakin sedikit musuh; semakin sedikit musuh, semakin tinggi kehormatan. Namun menurut Imam Ali Khamenei qs, cara berpikir semacam itu adalah sebuah kekeliruan

KHAMENEI.ID – “Menurut Imam Ali Khamenei, kehormatan ulama tidak lahir dari sikap diam, melainkan dari keberanian hadir ketika agama, keadilan, dan nasib masyarakat dipertaruhkan.” Ada anggapan yang terus berulang dari zaman ke zaman: agama akan lebih dihormati jika menjauh dari politik. Ulama dianggap cukup mengurus mimbar, masjid, kitab, dan ibadah.

KHAMENEI.ID – Ada anggapan yang terus berulang setiap kali ulama berbicara tentang politik, keadilan, atau persoalan dunia. “Bukankah lebih baik ulama fokus mengajar agama? Bukankah mereka akan lebih dihormati jika tidak ikut dalam konflik sosial dan politik?” Bagi sebagian orang, pertanyaan itu terdengar masuk akal. Namun dalam pandangan Imam Ali

Ada kecenderungan yang kian menguat dalam perbincangan publik: membelah rohaniwan ke dalam dua kubu yang seolah saling berseberangan—“pro-pemerintah” dan “non-pemerintah”. Yang satu dianggap dekat dengan kekuasaan, yang lain dipersepsikan lebih “murni”. Dari sana, lahirlah penilaian moral yang tergesa: yang ini bernilai, yang itu tercela. Padahal, pembelahan semacam itu bukan hanya







