ulama dan politik

Dunia Memuji Imam Ali Setelah Wafat, Tapi Menolaknya Saat Berkuasa 

KHAMENEI.ID— Ada kecenderungan menarik dalam cara sebagian orang memahami agama: mereka lebih sibuk meniru bentuk luar daripada menangkap ruhnya. Ukuran kesalehan sering dipersempit menjadi model pakaian, gaya bicara, simbol-simbol lahiriah, atau nostalgia visual terhadap masa silam. Padahal, sejarah para tokoh besar Islam justru berbicara tentang sesuatu yang jauh lebih dalam:

Antara Mimbar dan Istana: Siapa Sebenarnya yang Terseret Dunia?

Ada kecenderungan yang kian menguat dalam perbincangan publik: membelah rohaniwan ke dalam dua kubu yang seolah saling berseberangan—“pro-pemerintah” dan “non-pemerintah”. Yang satu dianggap dekat dengan kekuasaan, yang lain dipersepsikan lebih “murni”. Dari sana, lahirlah penilaian moral yang tergesa: yang ini bernilai, yang itu tercela. Padahal, pembelahan semacam itu bukan hanya