Politik

Empat Sifat yang Perlahan Menghancurkan Sebuah Masyarakat

KHAMENEI.ID – Sebuah masyarakat tidak selalu runtuh karena serangan dari luar. Ada kalanya kehancuran justru bermula dari sesuatu yang tumbuh diam-diam di dalam dirinya: keputusan yang diambil tanpa pertimbangan, pendirian yang dipertahankan meski terbukti keliru, kekaguman berlebihan terhadap diri sendiri, dan kebiasaan menunda pekerjaan sampai kesempatan berlalu. Tak ada ledakan besar

Kekuasaan yang Mulai Meniru Kemewahan yang Dilawannya

KHAMENEI.ID– Kekuasaan sering kali tidak berubah wajah ketika berganti tangan. Yang berubah hanya nama orang yang duduk di kursinya. Gedungnya tetap megah, kendaraan dinas tetap mengilap, ruang-ruang kekuasaan tetap dijaga oleh protokol. Tetapi justru di situlah sebuah pertanyaan moral menjadi penting: apakah orang yang datang untuk memperbaiki kekuasaan akhirnya hanya belajar

Musuh dari Luar, Kelemahan dari Dalam

KHAMENEI.ID– Sebuah bangsa tidak selalu kalah karena musuhnya terlalu kuat. Kadang-kadang ia melemah karena terlalu sibuk bertengkar dengan dirinya sendiri. Di tengah riuh perdebatan, energi habis untuk perkara kecil, sementara ancaman yang lebih besar bergerak perlahan di luar pagar. Gagasan itulah yang menjadi salah satu pokok penting dalam pidato Ayatollah sayyid

Kekuasaan yang Mau Mendengar Rakyat

KHAMENEI.ID– Kekuasaan sering kali tidak berubah menjadi angkuh secara tiba-tiba. Ia tumbuh perlahan, dari jarak yang makin lebar antara penguasa dan orang yang dikuasai. Mula-mula hanya sebuah ruangan yang terlalu mewah. Lalu kendaraan yang semakin jauh dari jangkauan rakyat. Setelah itu cara bicara yang berubah: pertanyaan rakyat dianggap gangguan, keluhan dianggap

Palestina dan Pelajaran tentang Front Perlawanan

KHAMENEI.ID– Kekuasaan besar sering jatuh bukan karena ia kekurangan senjata, uang, atau sekutu. Ia jatuh karena keliru membaca manusia. Dalam pidatonya pada peringatan wafat Ayatollah Ruhollah Khomeini qs, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Sayyid Ali Khamenei qs menyoroti satu hal yang menurutnya menjadi kesalahan mendasar Israel: salah menghitung kemampuan front perlawanan di

Merawat Batas, Menjaga Kedaulatan: Mengapa Sebuah Bangsa Tak Boleh Kehilangan Identitas?

KHAMENEI.ID – Di dunia yang semakin terhubung, batas-batas negara tampak semakin tipis. Barang bergerak melintasi benua, informasi berpindah dalam hitungan detik, gagasan melompat dari satu masyarakat ke masyarakat lain. Hubungan internasional menjadi kebutuhan yang sulit dihindari. Tetapi justru karena dunia semakin terhubung, satu pertanyaan menjadi semakin penting: sampai di mana sebuah

Ketika Nama Islam Dipakai untuk Melawan Islam

KHAMENEI.ID– Ada masa ketika sebuah nama tidak lagi menjamin isi. Islam dapat disebut dalam pidato, dikibarkan dalam bendera, bahkan disertai simbol-simbol keagamaan, tetapi arah yang ditempuh justru menjauh dari nilai yang dibawanya. Di situlah persoalan menjadi lebih rumit: musuh sebuah agama tidak selalu datang dengan nama yang berlawanan dengan agama itu.

Universitas Tidak Boleh Berhenti Menjadi Sekadar Murid

KHAMENEI.ID– Ada bangsa yang memiliki banyak universitas, tetapi tidak memiliki cukup pengetahuan yang lahir dari universitasnya sendiri. Gedung-gedung kampus berdiri megah, ruang kuliah dipenuhi mahasiswa, gelar akademik terus diproduksi. Namun ketika hendak menjawab persoalan penting, mata masih diarahkan ke luar: menunggu penelitian dari negeri lain, membaca teori yang dibuat di tempat

Saat Sponsor Menentukan Arah Pengetahuan

KHAMENEI.ID– Ada bentuk ketergantungan yang tidak selalu tampak sebagai ketergantungan. Ia datang bukan melalui perintah, melainkan melalui bantuan. Bukan dengan ancaman, melainkan dengan pendanaan. Bahkan kadang hadir dengan wajah yang sangat terhormat: kesempatan, penghargaan, akses ke pasar, beasiswa, atau publikasi internasional. Di situlah persoalan bermula. Sebab yang tampak seperti dukungan bisa

Ketika Kampus Tak Lagi Sekadar Mencetak Gelar

KHAMENEI.ID– Sebuah universitas dapat menjadi tempat lahirnya pengetahuan. Tapi ia juga bisa menjadi tempat lahirnya ketergantungan. Di balik ruang kuliah, laboratorium, perpustakaan, dan gelar akademik, selalu ada pertanyaan yang lebih besar: untuk siapa sebenarnya ilmu pengetahuan diproduksi? Pertanyaan itu membawa kita pada cara melihat universitas yang berbeda. Dalam gagasan revolusi yang

Ketika Demokrasi Menjadi Nama, Bukan Nilai

KHAMENEI.ID– Ada ironi yang terus berulang dalam sejarah politik modern: sebuah negara dapat berbicara paling lantang tentang kebebasan, sementara pada saat yang sama menundukkan bangsa lain. Ia dapat mengibarkan demokrasi sebagai bendera, tetapi mendukung kekuasaan yang jauh dari kehendak rakyat. Di situlah persoalannya bermula: ketika sebuah nilai berubah menjadi sekadar nama,