

KHAMENEI.ID– Kekuasaan sering kali diukur dari angka. Berapa besar pertumbuhan ekonomi, seberapa tinggi investasi, atau berapa banyak pembangunan yang berhasil diwujudkan. Semua itu penting. Namun dalam pandangan Islam, ada ukuran yang jauh lebih mendasar daripada sekadar keberhasilan administratif. Seorang pemimpin tidak hanya diminta mengatur kehidupan dunia, tetapi juga membantu manusia menemukan

KHAMENEI.ID – Selama puluhan tahun, Asia Barat—atau yang lebih sering disebut Timur Tengah—dipandang sebagai panggung tempat negara-negara adidaya memainkan pengaruhnya. Perang, kudeta, intervensi militer, hingga perebutan sumber daya seolah menjadi pola yang terus berulang. Banyak pemerintahan berganti, banyak perjanjian ditandatangani, tetapi arah kawasan nyaris selalu ditentukan oleh kekuatan-kekuatan besar dari

KHAMENEI.ID – Di banyak ruang diskusi, satu tuduhan hampir selalu muncul ketika berbicara tentang negara Islam: jika ulama terlibat dalam pemerintahan, bukankah itu berarti agama sedang memonopoli kekuasaan? Dari pertanyaan itulah lahir berbagai istilah seperti “pemerintahan ulama”, “rezim para mullah”, atau “negara yang dikuasai kaum agama”. Istilah-istilah itu terdengar sederhana, tetapi

KHAMENEI.ID – “Menurut Imam Ali Khamenei, kehormatan ulama tidak lahir dari sikap diam, melainkan dari keberanian hadir ketika agama, keadilan, dan nasib masyarakat dipertaruhkan.” Ada anggapan yang terus berulang dari zaman ke zaman: agama akan lebih dihormati jika menjauh dari politik. Ulama dianggap cukup mengurus mimbar, masjid, kitab, dan ibadah.

KHAMENEI.ID – Ada anggapan yang terus berulang setiap kali ulama berbicara tentang politik, keadilan, atau persoalan dunia. “Bukankah lebih baik ulama fokus mengajar agama? Bukankah mereka akan lebih dihormati jika tidak ikut dalam konflik sosial dan politik?” Bagi sebagian orang, pertanyaan itu terdengar masuk akal. Namun dalam pandangan Imam Ali

KHAMENEI.ID – Ada ironi besar dalam sejarah dunia modern. Negara-negara yang hari ini paling lantang berbicara tentang demokrasi, hak asasi manusia, dan kebebasan justru dibangun di atas jejak panjang kolonialisme, perampasan kekayaan bangsa lain, dan dominasi politik global. Di sisi lain, banyak negeri Muslim yang dahulu menjadi pusat ilmu pengetahuan

KHAMENEI.ID– Ada dua hal yang sering dianggap biasa sampai suatu hari lenyap dari kehidupan: kesehatan dan keamanan. Selama tubuh masih kuat, orang jarang memikirkan arti sehat. Selama jalanan tetap aman, anak-anak dapat berangkat ke sekolah tanpa rasa takut, dan keluarga bisa pulang larut malam dengan tenang, sedikit sekali yang benar-benar menyadari

KHAMENEI.ID– Ada pertanyaan yang sejak lama menggugah banyak orang: mengapa peristiwa Ghadir Khum menempati posisi yang begitu menentukan dalam sejarah Islam? Bukankah selama lebih dari dua dekade Nabi Muhammad saw telah menyampaikan wahyu, membangun masyarakat, memimpin peperangan, menegakkan keadilan, dan mengubah wajah peradaban? Mengapa, menjelang akhir perjalanan kenabian, turun sebuah perintah

KHAMENEI.ID – Tidak semua gerakan lahir dari kekuatan senjata. Sebagian justru bertahan karena memiliki keyakinan yang lebih kuat daripada rasa takut. Itulah yang membuat sebuah gerakan mampu melampaui batas negara, pergantian generasi, bahkan kehilangan para pemimpinnya. Dalam pandangan Imam Ali Khamenei qs, itulah hakikat muqawamah atau perlawanan—sebuah konsep yang selama

KHAMENEI.ID – Selama berabad-abad, banyak orang menganggap agama cukup tinggal di ruang ibadah. Masjid mengurus salat, ulama mengurus doa, sementara negara berjalan dengan logikanya sendiri. Dalam pandangan seperti ini, Islam hanya dipahami sebagai hubungan pribadi antara manusia dan Tuhan. Ia menghibur hati, tetapi tidak mengatur masyarakat. Ia mengajarkan akhlak, tetapi

KHAMENEI.ID – Sejarah sering kali dikenang melalui nama-nama raja, presiden, atau panglima perang. Namun, jika menelusuri perjalanan bangsa-bangsa Muslim—khususnya Iran dalam satu setengah abad terakhir—akan tampak pola yang berulang. Di balik setiap gerakan besar yang berhasil menggerakkan rakyat, hampir selalu berdiri seorang ulama yang bukan hanya menguasai ilmu agama, tetapi









